Rabu, 16 April 2014
Saya = Tembok
Diposting oleh lovaliva di 06.39Kadang kalo ada acara kelas, aku suka mikir-mikir, ikut nggak ya? Emang siapa yang peduli aku mau ikut apa engga? Ada atau enggaknya aku buat mereka itu sama aja. Sama-sama nggak pengaruh.
Anak antectu, Mereka semua baik-baik. Baik banget palah. Dibanding kelas-kelas lain, anak TK1 satu-satunya yang kekeluargaan banget. Merangkul semuanya tanpa kecuali. Dibanding anak-anak cowok dari kelas lain, TK1 itu paling kompak. Rame. Kocak. Kalo anak cowok kelas lain jarang ada yang shalat, di TK1 anak cowoknya yang nggak shalat paling satu-dua. Anak-anak ceweknya juga baik-baik banget kok. Kalo orang luar mandang cewek-cewek dari sekolahku itu rata-rata cabe-cabean, itu salah banget. Iya, banyak yang cabe-cabean, tapi bukan kelasku, TK1 nggak ada kok yang cabe-cabean.
Pas kemaren halal- bi halal, semua anak cewek dikelasku nangis, kecuali aku.
Ada beberapa alesan kenapa aku sampe nggak nangis biarpun sedih. Pertama, sesedih apapun aku tapi kalo lagi nggak mood nangis ya ngga bakal nangis. Kedua, entah kenapa, aku ngerasa aku seperti nggak pernah ada di TK1. Bukan, bukan aku nggak cinta TK1. Cinta banget kok. Cuma kalo ada apa-apa, aku nggak pernah dilibatin. Misal ada acara kelas, yang ngasih tau cuman tita, nono, tita, nono. Seakan cuma mereka berdua aja yang mengakui keberadaan aku di TK1. Misal ketuanya, dia ngasih tau tati, ngasih tau tita, mungkin ngasih tau ke anak sekelas. Tapi enggak dengan aku, aku nggak dikabarin sama sekali. Contohnya juga kalo ada yang posting foto sekelas, semuanya ditag. semuanya. Kecuali lagi, kecuali aku!
Okelah, fine. Mungkin mereka nganggep aku bukan temen mereka. Atau mungkin aku yang terlalu lebay nanggepinnya.
3 tahun aku duduk sama nono. Cuma dia satu-satunya orang yang peduli sama aku di sekolah. Itu juga kadang-kadang.
Jadi aku berpikir, kalo aku nangis, apa yang sedang aku tangisin ya? Kayaknya, mereka nggak pernah nganggep aku ada. Aku kayak nggak ada bedanya sama tembok kelas. Bosenin kalo diajak ngomong. Mungkin juga buat mereka aku sama dengan lampu dikelas. Sama-sama nggak pentingnya.
Minggu, 23 Februari 2014
Berlarilah!
Diposting oleh lovaliva di 22.30
Kalo materi olahraga atau ujian prakteknya tentang lari, dari 40 anak dikelas dari dulu aku selalu jadi yang terbelakang. Awalnya terbelakang nomer tiga. Kemudian jadi terbelakang nomer dua. Dan ujian praktek olahraga terakhir kemaren jadi yang paling belakang nomer satu. Menyedihkan.
Padahal
aku kurus, saking kurusnya temenku bilang aku kaya papan triplek. Harusnya kalo
kurus kan ringan buat lari. Tapi yang terjadi justru palah yang gemuk-gemuk
terus mempimpin di garis depan. Soalnya yang gemuk-gemuk udah biasa mendaki
gunung melewati lembah *kaya ninja hatori aja* kalo mau pulang-pergi sekolah.
Kalo aku jarang olahraga, terakhir olahraga juga ga tau kapan, lupa. Mungkin di
kehidupan sebelumnya kali.
Buatku
tidur itu hal paling membahagiakan didunia. Aku tinggal mujur diatas kasur
sambil merem tapi jiwaku bisa kemana-mana. Perang sama naga lah, bantuin
Voldemort ngalahin Harry Potter lah, bikin api unggun di Kutub Utara. Seneng
pokoknya. Ngerasa pergi kemana-mana, seru tapi nggak capek. Tapi ya, emang Cuma
mimpi sih. Nggak papalah buat hiburan daripada stress menanti keajaiban yang
tak kunjung turun yakan.
Seringnya
mimpi itu ya Cuma sekedar mimpi. Pelengkap tidur, tapi kadang-kadang, menurutku
ada mimpi yang jadi petunjuk hidup tentang apa yang akan terjadi dan apa yang
harus aku pilih.
Dulu
aku pernah ngimpi pergi ke suatu tempat bareng sahabatku dan diperjalanan, kita
tersesat berdua dihutan. Kebingungan, nyari pertolongan.Kita berdua tersesat
lama. Panik, frustasi, menyesal karena melakukan perjalanan itu, semuanya
bercampur menjadi satu. Nggak ada yang dateng buat nolong. Dan akhirnya
daripada kebanyakan ngeluh yang nggak merubah keadaan, kita jalan
bareng-bareng, nyari jalan keluar dari hutan itu sama-sama, sebelum aku
bener-bener bangun, kita berdua bisa keluar dari hutan itu sambil nangis
bahagia.
Ternyata mimpi itu jadi kenyataan.
Aku dan sahabatku janjian pergi ke sekolah yang sama. Ternyata ditengah jalan,
kita sama-sama ngerasa telah pergi ke sekolah yang salah. Dan kita berdua sama-sama
tersesat lama disana. Berdua, aku dan dia sama-sama menyesal. Sedih, kacau,
frustasi. Tapi tidak ada jalan lain selain berjalan terus dan mencoba menemukan
jalan keluar. At least, sekarang, kita berdua udah sama-sama mau lulus sekolah.
Waktu
bingung mau milih universitas mana yang akan jadi tujuan aku dan sahabatku
setelah lulus sekolah, aku mimpi tersesat lagi.
Dengan seseorang yang sama dihutan
yang sama dengan latar yang berbeda. Hanya saja, kali ini kita tidak berdua,
dia bersama salah seorang temannya. Dan kali ini, kita tidak mencari jalan
keluar bersama-sama. Dia memutuskan untuk memilih jalan yang berbeda denganku. Dia
pergi berdua saja dengan temannya. Ditengah hutan, aku ditinggalkan. Mencari
jalan keluar, sendirian.
Kami tersesat tidak lama. Karena
ini hutan yang sama, tidak terlalu sulit untuk sekedar menemukan jalan keluar.
Dijalan pulang, aku melihat ia dan temannya melewati jalan pintas. Sedang aku
hanya diam saja. Tak mengambil jalan pintas yang mereka pilih. Aku terus
berjalan di jalanan lurus yang panjang. Tidak ada belokan. Tidak ada tikungan.
Dan tidak ada orang lain. Dimimpiku aku hanya melihat diriku sendiri yang
sedang berjalan sendirian dengan tatapan lurus kedepan tanpa sempatmenengok
kebelakang. Tanpa tahu harus pergi kemana, aku terus saja berjalan.
Dan
setengah mimpi itu lagi-lagi menjadi kenyataan. Sebelumnya, kita berencana
untuk pergi ke perguruan tinggi yang sama. Tapi pada saat mengisi pilihan
universitas bersama-sama, aku tidak menyangka, dia memilih universitas yang sama
sekali berbeda dengan yang kupilih. Temannya juga ikut mendaftar di perguruan
tinggi yang sama dengannya. Hanya aku saja yang berbeda. Yasudahlah kalau
memang itu pilihannya. Memangnya aku harus apa? Mungkin mulai sekarang, kita
harus menempuh jalan kita masing-masing. Jalan yang ia yakini terbaik untukknya
dan jalan yang kuyakini terbaik untukku.
Semalam,
aku bermimpi ujian praktek lari lagi. Seperti biasa, aku berlari sendirian, dan
mungkin dibarisan paling belakang seperti yang sudah-sudah. Awalnya aku hampir
kelelahan dan memutuskan untuk jalan, tapi kemudian aku mengubah cara lariku
yang awalnya seluruh permukaan kakiku menjadi tumpuan lari-menjadi hanya ujung
kakiku saja yang kugunakan untuk berlari. Ternyata itu membuat tubuhku terasa
ringan dan tidak merasa kelelahan. Pernah lihat adegan orang berlari dengan
dramatis di film? Begitulah aku berlari di mimpiku. Tidak peduli dimana
posisiku sekarang, tidak tahu dimana posisiku sekarang, yang kutahu hanya aku
harus terus berlari. Mengejar diriku sendiri. Sampai kemudian, pak guru
menyempritku dari belakang. Seketika aku memperlambat lariku karena tiba-tiba
saja merasa seperti jadi pemain bola yang telah melakukan pelanggaran. Ketika
aku berbalik, aku mendapati pak guru menyusulku dibelakang dengan sepeda.
Prit!
“Nomor 34 berhenti! Garis finis
sudah terlewati sejak tadi. Sekarang teman-temanmu sedang berkumpul disana.
Kamu berlari terlalu jauh tau!”.
Setelah aku bangun, aku hanya
bertanya retorik pada diriku sendiri. Mimpi macam apa?
Mendadak aku teringat sebuah quotes
di ending film jepang yang pernah kutonton,
“Berlarilah untuk sesuatu yang
menurutmu pantas untuk dikejar.” –Battle Royale
Suho Bajakan
Diposting oleh lovaliva di 22.17
(suho exo-k)
Setiap kali liat fotonya Suho yang diatas, aku jadi keinget seseorang. Kakak kelas yang pernah deket.
Dia tahu aku karena setiap ada ujian semester, kami berada di kelas yang sama. Dia dapet nomerku dari temen sekelasku. Awalnya sih biasa aja. Cuma sms basa-basi kaya aku lagi apa, udah makan belum, jangan lupa belajar. Yang kaya gitu-gitu. Kadang-kadang aku balesin. Seringnya enggak. Nggak bales dibilang sombong, dibalesin palah ngelunjak. Nggak diladenin dikira jahat, diladenin dikira ngasih harapan. Serba salah.
Disaat aku pengen menghindar dari hadapannya, waktu ujian
semester aku palah dikira nyontek sama pak guru dan ditarik ke depan. Disuruh
duduk di kursi pengawas sampe selese ngerjain ujian. Malu banget. Baru kelas
satu udak disuruh duduk dikursi pengawas gara-gara kepergok dikira nyontek.
Parahnya lagi, si suho bajakan duduk didepanku pas. Derita abis.
Sesekali Suho bajakan ngeliatin aku sambil cengar cengir.
Bikin aku kepengen njitak. Pokoknya udah yang emosi banget waktu itu sampe entah gimana yang tadinya di belakang blank,
pas duduk didepan tiba-tiba lembar jawabnya udah keisi semua, saking emosinya.
Aku langsung ngumpulin lembar jawab dan keluar ruangan. Pulang.
Pas malemnya, Suho bajakan ngirim pesan.
“Dek, tadi kenapa disuruh duduk didepan?”
“Dikira nyontek :’(“
“Oh gitu, tapi gapapa kok dek, aku kan jadi bisa ngeliatin
adek :D” Suho bajakan nyebelin banget.
“Malu tau kak.”
“Nggak papa dek, pak guru emang udah biasa kaya gitu, kamu
yang sabar ya dek J”
Males ngomogn sama suho bajakan.
“Dek rumah kamu dimana? Aku boleh main nggak? ;)”
Aku bales,”Bapakku galak.”
Yaelah palah dia balesin, “Aku kan mau ketemu kamu dek,
bukan bapak kamu,” Kamvret -___-
“Suka korea ya dek?”
“Iya.”
“Oh...:)”
Aku nggak bales, tapi dia sms-sms terus.
“Lagi apa dek?” Sengaja nggak aku bales lagi. Dia nyoba
nelpon terus. Aku males kalo ngangkat
telpon. Jadi aku bales.
“Tiduran. Kamu?”
“Lagi duduk-duduk didepan rumah sambil mainin gitar nih
dek.”
“Mau aku nyanyiin lagu nggak dek? Nanti aku telpon J”
“Korea bisa?” Tanyaku nawar. Kaya lagi dipasar aja nawar
-___-
“Aduh nggak bisa dek. Lagunya ungu aja gimana?” Nggak aku bales
lagi.
“Dek, tadi aku liat
kamu pas mau ke lab grafis ;)”
“Aku jelek kak.”
“Enggak kok dek, kamu itu cantik tau :*” Kepingin muntah.
Aku nggak percaya sama gombaannya suho bajakan. Dia ngomong gitu emang Cuma
buat nyenengin aku doang. Aku tau banget, aku nggak cantik. Suho bajakan kalo
gombal emang alay parah.
Abis suho bajakan bilang suka sama aku, aku nggak ngasih
jawaban. Ngebiarin dia. Terserah mau sms apa. Terserah mau miskol miskol mulu.
Pokoknya terserah. Tapi lama-lama, aku jadi risih juga. Jadi aku bohong ke dia
kalo aku udah punya cowok jadi dia nggak usah ganggu ganggu aku lagi. Nggak
bohong juga sebenernya. Adekku cowok, bapakku cowok, Masku juga cowok, jadi
bener dong aku punya cowok -___-
Nomor absenku ada diurutan terakhir, jadi tiap kali ada
praktek kejuruan, aku pasti masuk kloter dua. Setengah pelajaran nunggu diluar
lab sambil ngerjain soal. Kelasnya Suho bajakan letaknya tepat didepan lab
tempat aku duduk. Waktu itu kelasnya Suho bajakan lagi ulangan, yang perempuan
ulangan dulu, yang cowok diluar dulu.
Salah satu temen cowok sekelasku dipanggil sama
temen-temennya Suho bajakan. Pas dia balik, dia langsung manggil aku. Kirain
ada yang penting, jadi aku nyamperin dia.
“Kenapa?”
“Kamu dicariin,”
“Sama siapa?”
“Tuh!” Dia nunjuk ke suho bajakan dan temen-temen
sekelasnya. Aku menoleh ke gerombolan itu karena waktu itu aku nggak tau kalo
disana ada suho bajakan beserta temen-temennya.
Pas aku noleh, temen-temennya langsung teriak,”Eaaaa...”
mereka nyurakin aku sambil cekikikan ngegodain suho bajakan. Berisik banget.
Suho bajakan yang duduk disamping pintu kelas Cuma cengengesan sambil memasang
wajah tanpa dosa.
Demi apa. AKU MALU BANGET.
“Assalamualaikum dek J”
Aku langsung marah-marah gara-gara kejadian tadi pagi. Ketik
send ketik send sampe keypad hampir jebol -___- Setelah itu, aku nggak pernah
balesin sms dia sama sekali. Muak. Suatu saat pas dia kelas tiga, mau Un,
tiba-tiba aja dia sms. Dia lagi galau, putus asa, takut gak lulus, bingung mau
kerja apa kuliah. Karena dia minta didoain biar ujiannya sukses, jadi aku
balesin smsnya.
“Makasih ya dek J
karena kamu, aku jadi semangat lagi ngadepin ujian. Aku juga jadi kepengen
kuliah karena aku. Aku pingin ngambil matematika, Kalo aku kuliah kira-kira
kita bisa ketemu lagi nggak ya dek?” aku mengabaikan pesan itu. Bukan apa-apa
sebenarnya. Aku hanya tahu, jika aku tak menyukainya, tak seharusnya aku
memberikan banyak harapan padanya.
Suatu saat temanku bilang ke aku, “Aku liat relationship dia
di fbnya. Ekarang dia udah punya pacar.”
“Oh...” Cuma itu yang bisa aku bilang. Syukur deh kalo dia
udah punya. Aku palah bahagia, disaat aku masih terus menjomblo sampe sekarang,
dia udah menemukan rumah singgahnya lebih dulu.
Aku yakin, suatu saat nanti, Tuhan akan memberikan aku Jodoh yang lebih baik jika aku mau konsisten dengan keyakinanku yang sekarang : pacaran itu nggak boleh.
Aku yakin, suatu saat nanti, Tuhan akan memberikan aku Jodoh yang lebih baik jika aku mau konsisten dengan keyakinanku yang sekarang : pacaran itu nggak boleh.
Kamis, 02 Januari 2014
Islam, Titik
Diposting oleh lovaliva di 20.33
Sebelum banyak omong, aku kepengen ngelurusin tentang masalah yang lumayan mencemari image tentang aku. Meskipun aku yakin, yang baca blog ini cuma aku doang, tapi seenggaknya, aku jadi ngerasa lumayan lega kalo udah menuliskan semua unek-unek yang lagi aku pikirin.
Baru aja tahun baru. Baru aja bikin resolusi baru. Palah aku denger hal yang nggak enak. Aku shock. Shock setengah mati meski itu bukan masalah yang besar sih. Waktu temenku ngasih tau aku kalo beberapa waktu yang lalu, aku sempet jadi gosip di pondok cowok gara-gara nama facebooku ada unsur kata 'wahaby'nya. Sumpah demi Allah, aku nggak ikut golongan Islam apapun. Apalagi Islam sesat. Aku juga bukan orang fanatik yang hanya condong ke Islam Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, atau yang lainnya. Aku cuma Islam aja, titik.
Semuanya berawal dari sepupuku yang pake nama facebook ditambahi marga ayahnya. Berhubung aku nge-add saudara-saudara jauhku yang ada di Kalimantan, Jogja, sama Cilacap, aku ikutan pake nama marga bapaku dibelakang, biar saudaraku tau itu bener-bener aku. Gitu maksudku. Marga bapakku Hasbi. Tapi gara-gara aku orangnya grasa-grusu, pas nulis hasbi, 's'nya ketinggalan. Niatnya mau Wa Hasby, ealah palah jadi Wahaby. Begonya lagi, jauh sebelum itu, aku udah pernah baca dimajalah tentang aliran wahaby, tapi aku nggak inget itu tentang apa. Belakangan, aku inget kalo itu Islam sesat.
Shock banget. Pusing. Padahal tadinya mau bikin silabus buat UN inggris, gara-gara denger itu aku nggak jadi bikin. Cuma tiduran, pasang selimut tinggi-tinggi sambil istighfar banyak-banyak. Gairah hidupku serasa hilang. Temen-temen yang aku ceritain tentang itu cuma nanggepin dengan bilang aku nggak usah lebay, toh kejadiannya juga udah lumayan lama. Tapi aku nggak bisa. Buatku, mau lama ataupun baru apa bedanya? Aku bakal tetep dikira perempuan beraliran sesat hanya karena salah nama akun facebook doang. Emang seempati apapun orang sama kita, tetep aja nggak akan pernah mampu ikut merasakan perasaan kita. Kebanyakan cuma kasih solusi ngasal lalu nggak peduli.
Sedih? Jelas. Aku emang orang yang gampang stres sama 'tanggapan orang tentang aku' dan ini kebiasaan buruk yang perlu dirubah,.Tapi, nggak perlulah jadi orang yang terus-terusan sedih. Nggak merubah keadaan. Pengen banyak-banyak berdoa aja, biar aku dijadikan orang yang lebih baik ke depan sama Allah.
Bapakku Islam N.U. Walaupun semua temen baiknya Muhammadiyah, tapi dia nggak terpengaruh. Tetep Nu. Ibuku juga N.U. Masku dari sd sampai kuliah terus berubah, awalnya N.U terus jadi Muhammadiyah, terus sekarang Salafi. Sedangkan mbaku, dia Islam Tarbiyah.
Kalo aku? Aku Islam aja. Titik. Nggak pengen pake embel-embel apapun. Karena menurutku, embel-embel cuma menciptakan jarak dan memberikan tanda kalau kita 'berbeda'.
Pas jaman mts, aku sedikit terganggu dengan guru matematika yang suka menjuluki islam golongan 'celana cungklang'. Aku cuma mikir, la terus kenapa kalo mereka cungklang? Apa merugikan pak guru? Menurutku sih nggak.
Ada juga Islam yang ngomongin golongan Islam yang lain, "Masa Islam yang itu kalo ada orang meninggal nggak ada tahlilan, nggak ada 7harian. Langsung dikubur. Kaya Ayam. Mati terus lempar."
Ada lagi Islam yang kalo ada Islam golongan lain shalat di masjid mereka, langsung deh di pel. Dianggap najis. Astaghfirullah. Bukankah Tuhan kita sama-sama Allah? Bukankah nabi kita sama-sama Muhammad dan pedoman kita sama-sama Al-Quran dan hadis?
Islam yang satu meneriaki Islam yang lain kafir. Islam yang satu itu membalas dengan mengatai Islam garis keras. Begitu terus. Sama-sama Islam tapi saling memusuhi gara-gara merasa menjadi Islam yang 'paling benar' dari Islam yang lain. Padahal udah tahu kalimat Wallahu a'lam. Allah yang lebih maha tahu kan? Terus kenapa harus saling menghakimi? Sekeras apapun manusia berusaha membuat dunia ini menjadi seragam, itu mustahil terjadi. Setiap orang punya pandangan hidup yang berbeda dan orang lain nggak punya hak untuk memaksa seseorang yang lain untuk mengikuti pandangan hidup yang dianutnya.
Hanya karena batas-batas yang diciptakan manusia, Islam menjadi sesuatu yang dikotak-kotakkan. Ibarat susu yang diolah jadi susu vanila, susu coklat, susu strawberry. Terlalu sibuk memusingkan perbedaan sampai tidak bisa terlihat sebuah kesamaan, sama-sama susu.
Padahal, banyak hal lain yang perlu mendapatkan perhatian lebih. Contoh kasat matanya illuminati. Contoh kecilnya, di SMK tempatku sekolah, mushalla selalu kosong. Padahal jumlah murid non muslim nggak banyak dan semua siswa kelas tiga ada 200an lebih. Tapi yang shalat selalu nggak lebih dari 20 anak. Hobi nongkrong sambil minum minuman keras. Banyak yang nyobain drugs. Buta huruf arab. Sampe yang aku denger pas pelajaran waktu anak cowok ada yang lagi ngobrol tentang suka minta bantuan jin.
Menurutku daripada sibuk memerangi perbedaan, merekalah yang lebih perlu ditolong untuk ditunjukkan Islam yang bener.
Dari awal, Islam itu rahmat. Dan sampai akhirpun akan selalu begitu.
Meski orang tuaku N.U, kakakku salafi, dan mbakku Tarbiyah. Meski kakak iparku bilang pemikiranku liberalis, aku tetep milih buat jadi Islam aja. Aku hanya ingin menjalani apa yang kuyakini benar. Karena beginilah caraku memandang hidup.
Baru aja tahun baru. Baru aja bikin resolusi baru. Palah aku denger hal yang nggak enak. Aku shock. Shock setengah mati meski itu bukan masalah yang besar sih. Waktu temenku ngasih tau aku kalo beberapa waktu yang lalu, aku sempet jadi gosip di pondok cowok gara-gara nama facebooku ada unsur kata 'wahaby'nya. Sumpah demi Allah, aku nggak ikut golongan Islam apapun. Apalagi Islam sesat. Aku juga bukan orang fanatik yang hanya condong ke Islam Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, atau yang lainnya. Aku cuma Islam aja, titik.
Semuanya berawal dari sepupuku yang pake nama facebook ditambahi marga ayahnya. Berhubung aku nge-add saudara-saudara jauhku yang ada di Kalimantan, Jogja, sama Cilacap, aku ikutan pake nama marga bapaku dibelakang, biar saudaraku tau itu bener-bener aku. Gitu maksudku. Marga bapakku Hasbi. Tapi gara-gara aku orangnya grasa-grusu, pas nulis hasbi, 's'nya ketinggalan. Niatnya mau Wa Hasby, ealah palah jadi Wahaby. Begonya lagi, jauh sebelum itu, aku udah pernah baca dimajalah tentang aliran wahaby, tapi aku nggak inget itu tentang apa. Belakangan, aku inget kalo itu Islam sesat.
Shock banget. Pusing. Padahal tadinya mau bikin silabus buat UN inggris, gara-gara denger itu aku nggak jadi bikin. Cuma tiduran, pasang selimut tinggi-tinggi sambil istighfar banyak-banyak. Gairah hidupku serasa hilang. Temen-temen yang aku ceritain tentang itu cuma nanggepin dengan bilang aku nggak usah lebay, toh kejadiannya juga udah lumayan lama. Tapi aku nggak bisa. Buatku, mau lama ataupun baru apa bedanya? Aku bakal tetep dikira perempuan beraliran sesat hanya karena salah nama akun facebook doang. Emang seempati apapun orang sama kita, tetep aja nggak akan pernah mampu ikut merasakan perasaan kita. Kebanyakan cuma kasih solusi ngasal lalu nggak peduli.
Sedih? Jelas. Aku emang orang yang gampang stres sama 'tanggapan orang tentang aku' dan ini kebiasaan buruk yang perlu dirubah,.Tapi, nggak perlulah jadi orang yang terus-terusan sedih. Nggak merubah keadaan. Pengen banyak-banyak berdoa aja, biar aku dijadikan orang yang lebih baik ke depan sama Allah.
Bapakku Islam N.U. Walaupun semua temen baiknya Muhammadiyah, tapi dia nggak terpengaruh. Tetep Nu. Ibuku juga N.U. Masku dari sd sampai kuliah terus berubah, awalnya N.U terus jadi Muhammadiyah, terus sekarang Salafi. Sedangkan mbaku, dia Islam Tarbiyah.
Kalo aku? Aku Islam aja. Titik. Nggak pengen pake embel-embel apapun. Karena menurutku, embel-embel cuma menciptakan jarak dan memberikan tanda kalau kita 'berbeda'.
Pas jaman mts, aku sedikit terganggu dengan guru matematika yang suka menjuluki islam golongan 'celana cungklang'. Aku cuma mikir, la terus kenapa kalo mereka cungklang? Apa merugikan pak guru? Menurutku sih nggak.
Ada juga Islam yang ngomongin golongan Islam yang lain, "Masa Islam yang itu kalo ada orang meninggal nggak ada tahlilan, nggak ada 7harian. Langsung dikubur. Kaya Ayam. Mati terus lempar."
Ada lagi Islam yang kalo ada Islam golongan lain shalat di masjid mereka, langsung deh di pel. Dianggap najis. Astaghfirullah. Bukankah Tuhan kita sama-sama Allah? Bukankah nabi kita sama-sama Muhammad dan pedoman kita sama-sama Al-Quran dan hadis?
Islam yang satu meneriaki Islam yang lain kafir. Islam yang satu itu membalas dengan mengatai Islam garis keras. Begitu terus. Sama-sama Islam tapi saling memusuhi gara-gara merasa menjadi Islam yang 'paling benar' dari Islam yang lain. Padahal udah tahu kalimat Wallahu a'lam. Allah yang lebih maha tahu kan? Terus kenapa harus saling menghakimi? Sekeras apapun manusia berusaha membuat dunia ini menjadi seragam, itu mustahil terjadi. Setiap orang punya pandangan hidup yang berbeda dan orang lain nggak punya hak untuk memaksa seseorang yang lain untuk mengikuti pandangan hidup yang dianutnya.
Hanya karena batas-batas yang diciptakan manusia, Islam menjadi sesuatu yang dikotak-kotakkan. Ibarat susu yang diolah jadi susu vanila, susu coklat, susu strawberry. Terlalu sibuk memusingkan perbedaan sampai tidak bisa terlihat sebuah kesamaan, sama-sama susu.
Padahal, banyak hal lain yang perlu mendapatkan perhatian lebih. Contoh kasat matanya illuminati. Contoh kecilnya, di SMK tempatku sekolah, mushalla selalu kosong. Padahal jumlah murid non muslim nggak banyak dan semua siswa kelas tiga ada 200an lebih. Tapi yang shalat selalu nggak lebih dari 20 anak. Hobi nongkrong sambil minum minuman keras. Banyak yang nyobain drugs. Buta huruf arab. Sampe yang aku denger pas pelajaran waktu anak cowok ada yang lagi ngobrol tentang suka minta bantuan jin.
Menurutku daripada sibuk memerangi perbedaan, merekalah yang lebih perlu ditolong untuk ditunjukkan Islam yang bener.
Dari awal, Islam itu rahmat. Dan sampai akhirpun akan selalu begitu.
Meski orang tuaku N.U, kakakku salafi, dan mbakku Tarbiyah. Meski kakak iparku bilang pemikiranku liberalis, aku tetep milih buat jadi Islam aja. Aku hanya ingin menjalani apa yang kuyakini benar. Karena beginilah caraku memandang hidup.
Jumat, 27 Desember 2013
[Monolog]ONLY TEARS
Diposting oleh lovaliva di 23.53
deviantart.net
Disclaimer : Segala sesuatu tentang Lagu only
tears dan liriknya adalah milik Infinite. Tapi, monolog ini milikku.
Aku mencintaimu.
Tapi...maafkan aku.
Untuk kali ini dan seterusnya, aku sudah tidak
bisa melakukan itu lagi. Aku sudah tidak mampu menanggung semua rasa sakit itu lebih
lama lagi. Aku tidak lagi punya kemampuan untuk mencintaimu setelah ini.
Kurasa, ini tidak benar jika aku berpikir suatu saat nanti aku akan menjelma
menjadi seseorang yang dekat denganmu. Seseorang yang berharga dihidupmu.
Jangan cintai orang seperti aku. Aku bukan
seseorang yang mudah untuk memberikan hatiku. Tapi tidak padamu. Awal dimana
aku mencintaimu adalah permulaan dari hari-hari yang terasa berat. Aku menjalani
hidupku setiap harinya diluar kesanggupanku. Hari demi hari yang kulalui terasa
begitu banyak dihinggapi kesedihan.
Jadi, aku mulai menangis. Aku tidak mempunyai
apapun untuk kuberikan padamu, bahkan untuk memberikan padamu hatiku. Tapi
kurasa, aku merindukannmu. Aku tidak pernah mengatakan padamu kata-kata cinta.
Tapi, aku merindukanmu. Aku tidak pernah berbesar harapan jika suatu saat nanti
kau akan menjadi milikku. Tapi, aku merindukanmu. Jadi, aku mendesakmu agar kau
pergi menjauh. Dariku. Karena aku hanya seseorang yang tidak memiliki apapun,
tetapi hanya memiliki sebuah hati.
Aku mempertahankan perasaanku padamu lagi.
Meskipun itu semua begitu terasa menyakitkan. Meskipun air mata adalah benda
yang berharga bagiku, tapi dengan mudahnya, aku sudah membuangnya begitu banyak
hanya untuk menangisi perasaan sia-siaku untukmu. Aku tidak pernah merasa beres
ketika aku menatap sosokmu dari jauh. Selalu ada hal yang membuat sudut hatiku
terasa nyilu.
Jangan melihat kearahku juga. Aku tahu bahwa hatiku
selalu ada dimanapun kamu berada. Engahan nafas kita yang terpaut cukup dekat.
Selalu berada disana. Di tempat yang sama. Aku mencintaimu melebihi siapapun di
dunia ini. Aku mencintaimu. Jadi, aku mempertahankannya. Mempertahankan
perasaan menyakitkan yang hanya kutanggung sendiri itu.
Aku bahkan tidak bisa untuk sekedar memegang
tanganmu. Tapi, aku merindukanmu. Aku takut. Aku hanya punya air mata untuk
mampu bertahan. Lagi-lagi aku merindukanmu. Aku tidak sanggup untuk memintamu
tinggal dan menetap disisiku. Tapi sekali lagi, aku merindukanmu. Kurasa ini semua
terlalu banyak. Tapi pada akhirnya, ini hanya karena aku seseorang yang tidak
memiliki apapun selain sepotong hati.
Subscribe to:
Postingan (Atom)








