Minggu, 23 Februari 2014

Berlarilah!



Credit picture to the owner.


Kalo materi olahraga atau ujian prakteknya tentang lari, dari 40 anak dikelas dari dulu aku selalu jadi yang terbelakang. Awalnya terbelakang nomer tiga. Kemudian jadi terbelakang nomer dua. Dan ujian praktek olahraga terakhir kemaren jadi yang paling belakang nomer satu. Menyedihkan.
Padahal aku kurus, saking kurusnya temenku bilang aku kaya papan triplek. Harusnya kalo kurus kan ringan buat lari. Tapi yang terjadi justru palah yang gemuk-gemuk terus mempimpin di garis depan. Soalnya yang gemuk-gemuk udah biasa mendaki gunung melewati lembah *kaya ninja hatori aja* kalo mau pulang-pergi sekolah. Kalo aku jarang olahraga, terakhir olahraga juga ga tau kapan, lupa. Mungkin di kehidupan sebelumnya kali.
          Buatku tidur itu hal paling membahagiakan didunia. Aku tinggal mujur diatas kasur sambil merem tapi jiwaku bisa kemana-mana. Perang sama naga lah, bantuin Voldemort ngalahin Harry Potter lah, bikin api unggun di Kutub Utara. Seneng pokoknya. Ngerasa pergi kemana-mana, seru tapi nggak capek. Tapi ya, emang Cuma mimpi sih. Nggak papalah buat hiburan daripada stress menanti keajaiban yang tak kunjung turun yakan.
          Seringnya mimpi itu ya Cuma sekedar mimpi. Pelengkap tidur, tapi kadang-kadang, menurutku ada mimpi yang jadi petunjuk hidup tentang apa yang akan terjadi dan apa yang harus aku pilih.
          Dulu aku pernah ngimpi pergi ke suatu tempat bareng sahabatku dan diperjalanan, kita tersesat berdua dihutan. Kebingungan, nyari pertolongan.Kita berdua tersesat lama. Panik, frustasi, menyesal karena melakukan perjalanan itu, semuanya bercampur menjadi satu. Nggak ada yang dateng buat nolong. Dan akhirnya daripada kebanyakan ngeluh yang nggak merubah keadaan, kita jalan bareng-bareng, nyari jalan keluar dari hutan itu sama-sama, sebelum aku bener-bener bangun, kita berdua bisa keluar dari hutan itu sambil nangis bahagia.
Ternyata mimpi itu jadi kenyataan. Aku dan sahabatku janjian pergi ke sekolah yang sama. Ternyata ditengah jalan, kita sama-sama ngerasa telah pergi ke sekolah yang salah. Dan kita berdua sama-sama tersesat lama disana. Berdua, aku dan dia sama-sama menyesal. Sedih, kacau, frustasi. Tapi tidak ada jalan lain selain berjalan terus dan mencoba menemukan jalan keluar. At least, sekarang, kita berdua udah sama-sama mau lulus sekolah.
          Waktu bingung mau milih universitas mana yang akan jadi tujuan aku dan sahabatku setelah lulus sekolah, aku mimpi tersesat lagi.
Dengan seseorang yang sama dihutan yang sama dengan latar yang berbeda. Hanya saja, kali ini kita tidak berdua, dia bersama salah seorang temannya. Dan kali ini, kita tidak mencari jalan keluar bersama-sama. Dia memutuskan untuk memilih jalan yang berbeda denganku. Dia pergi berdua saja dengan temannya. Ditengah hutan, aku ditinggalkan. Mencari jalan keluar, sendirian.
Kami tersesat tidak lama. Karena ini hutan yang sama, tidak terlalu sulit untuk sekedar menemukan jalan keluar. Dijalan pulang, aku melihat ia dan temannya melewati jalan pintas. Sedang aku hanya diam saja. Tak mengambil jalan pintas yang mereka pilih. Aku terus berjalan di jalanan lurus yang panjang. Tidak ada belokan. Tidak ada tikungan. Dan tidak ada orang lain. Dimimpiku aku hanya melihat diriku sendiri yang sedang berjalan sendirian dengan tatapan lurus kedepan tanpa sempatmenengok kebelakang. Tanpa tahu harus pergi kemana, aku terus saja berjalan.
          Dan setengah mimpi itu lagi-lagi menjadi kenyataan. Sebelumnya, kita berencana untuk pergi ke perguruan tinggi yang sama. Tapi pada saat mengisi pilihan universitas bersama-sama, aku tidak menyangka, dia memilih universitas yang sama sekali berbeda dengan yang kupilih. Temannya juga ikut mendaftar di perguruan tinggi yang sama dengannya. Hanya aku saja yang berbeda. Yasudahlah kalau memang itu pilihannya. Memangnya aku harus apa? Mungkin mulai sekarang, kita harus menempuh jalan kita masing-masing. Jalan yang ia yakini terbaik untukknya dan jalan yang kuyakini terbaik untukku.
          Semalam, aku bermimpi ujian praktek lari lagi. Seperti biasa, aku berlari sendirian, dan mungkin dibarisan paling belakang seperti yang sudah-sudah. Awalnya aku hampir kelelahan dan memutuskan untuk jalan, tapi kemudian aku mengubah cara lariku yang awalnya seluruh permukaan kakiku menjadi tumpuan lari-menjadi hanya ujung kakiku saja yang kugunakan untuk berlari. Ternyata itu membuat tubuhku terasa ringan dan tidak merasa kelelahan. Pernah lihat adegan orang berlari dengan dramatis di film? Begitulah aku berlari di mimpiku. Tidak peduli dimana posisiku sekarang, tidak tahu dimana posisiku sekarang, yang kutahu hanya aku harus terus berlari. Mengejar diriku sendiri. Sampai kemudian, pak guru menyempritku dari belakang. Seketika aku memperlambat lariku karena tiba-tiba saja merasa seperti jadi pemain bola yang telah melakukan pelanggaran. Ketika aku berbalik, aku mendapati pak guru menyusulku dibelakang dengan sepeda.
Prit!
“Nomor 34 berhenti! Garis finis sudah terlewati sejak tadi. Sekarang teman-temanmu sedang berkumpul disana. Kamu berlari terlalu jauh tau!”.
Setelah aku bangun, aku hanya bertanya retorik pada diriku sendiri. Mimpi macam apa?
Mendadak aku teringat sebuah quotes di ending film jepang yang pernah kutonton,
“Berlarilah untuk sesuatu yang menurutmu pantas untuk dikejar.” –Battle Royale

Suho Bajakan

(suho exo-k)

Setiap kali liat fotonya Suho yang diatas, aku jadi keinget seseorang. Kakak kelas yang pernah deket.
Dia tahu aku karena setiap ada ujian semester, kami berada di kelas yang sama. Dia dapet nomerku dari temen sekelasku. Awalnya sih biasa aja. Cuma sms basa-basi kaya aku lagi apa, udah makan belum, jangan lupa belajar. Yang kaya gitu-gitu. Kadang-kadang aku balesin. Seringnya enggak. Nggak bales dibilang sombong, dibalesin palah ngelunjak. Nggak diladenin dikira jahat, diladenin dikira ngasih harapan. Serba salah.

Disaat aku pengen menghindar dari hadapannya, waktu ujian semester aku palah dikira nyontek sama pak guru dan ditarik ke depan. Disuruh duduk di kursi pengawas sampe selese ngerjain ujian. Malu banget. Baru kelas satu udak disuruh duduk dikursi pengawas gara-gara kepergok dikira nyontek. Parahnya lagi, si suho bajakan duduk didepanku pas. Derita abis.
Sesekali Suho bajakan ngeliatin aku sambil cengar cengir. Bikin aku kepengen njitak. Pokoknya udah yang emosi banget waktu itu sampe  entah gimana yang tadinya di belakang blank, pas duduk didepan tiba-tiba lembar jawabnya udah keisi semua, saking emosinya. Aku langsung ngumpulin lembar jawab dan keluar ruangan. Pulang.
Pas malemnya, Suho bajakan ngirim pesan.
“Dek, tadi kenapa disuruh duduk didepan?”
“Dikira nyontek :’(“
“Oh gitu, tapi gapapa kok dek, aku kan jadi bisa ngeliatin adek :D” Suho bajakan nyebelin banget.
“Malu tau kak.”
“Nggak papa dek, pak guru emang udah biasa kaya gitu, kamu yang sabar ya dek J” Males ngomogn sama suho bajakan.
“Dek rumah kamu dimana? Aku boleh main nggak? ;)”
Aku bales,”Bapakku galak.”
Yaelah palah dia balesin, “Aku kan mau ketemu kamu dek, bukan bapak kamu,” Kamvret -___-

“Suka korea ya dek?”
“Iya.”
“Oh...:)”
Aku nggak bales, tapi dia sms-sms terus.
“Lagi apa dek?” Sengaja nggak aku bales lagi. Dia nyoba nelpon terus.  Aku males kalo ngangkat telpon. Jadi aku bales.
“Tiduran. Kamu?”
“Lagi duduk-duduk didepan rumah sambil mainin gitar nih dek.”
“Mau aku nyanyiin lagu nggak dek? Nanti aku telpon J”
“Korea bisa?” Tanyaku nawar. Kaya lagi dipasar aja nawar -___-
“Aduh nggak bisa dek. Lagunya ungu aja gimana?” Nggak aku bales lagi.
 “Dek, tadi aku liat kamu pas mau ke lab grafis ;)”
“Aku jelek kak.”
“Enggak kok dek, kamu itu cantik tau :*” Kepingin muntah. Aku nggak percaya sama gombaannya suho bajakan. Dia ngomong gitu emang Cuma buat nyenengin aku doang. Aku tau banget, aku nggak cantik. Suho bajakan kalo gombal emang alay parah.
Abis suho bajakan bilang suka sama aku, aku nggak ngasih jawaban. Ngebiarin dia. Terserah mau sms apa. Terserah mau miskol miskol mulu. Pokoknya terserah. Tapi lama-lama, aku jadi risih juga. Jadi aku bohong ke dia kalo aku udah punya cowok jadi dia nggak usah ganggu ganggu aku lagi. Nggak bohong juga sebenernya. Adekku cowok, bapakku cowok, Masku juga cowok, jadi bener dong aku punya cowok -___-
Nomor absenku ada diurutan terakhir, jadi tiap kali ada praktek kejuruan, aku pasti masuk kloter dua. Setengah pelajaran nunggu diluar lab sambil ngerjain soal. Kelasnya Suho bajakan letaknya tepat didepan lab tempat aku duduk. Waktu itu kelasnya Suho bajakan lagi ulangan, yang perempuan ulangan dulu, yang cowok diluar dulu.
Salah satu temen cowok sekelasku dipanggil sama temen-temennya Suho bajakan. Pas dia balik, dia langsung manggil aku. Kirain ada yang penting, jadi aku nyamperin dia.
“Kenapa?”
“Kamu dicariin,”
“Sama siapa?”
“Tuh!” Dia nunjuk ke suho bajakan dan temen-temen sekelasnya. Aku menoleh ke gerombolan itu karena waktu itu aku nggak tau kalo disana ada suho bajakan beserta temen-temennya.
Pas aku noleh, temen-temennya langsung teriak,”Eaaaa...” mereka nyurakin aku sambil cekikikan ngegodain suho bajakan. Berisik banget. Suho bajakan yang duduk disamping pintu kelas Cuma cengengesan sambil memasang wajah tanpa dosa.
Demi apa. AKU MALU BANGET.
“Assalamualaikum dek J”
Aku langsung marah-marah gara-gara kejadian tadi pagi. Ketik send ketik send sampe keypad hampir jebol -___- Setelah itu, aku nggak pernah balesin sms dia sama sekali. Muak. Suatu saat pas dia kelas tiga, mau Un, tiba-tiba aja dia sms. Dia lagi galau, putus asa, takut gak lulus, bingung mau kerja apa kuliah. Karena dia minta didoain biar ujiannya sukses, jadi aku balesin smsnya.
“Makasih ya dek J karena kamu, aku jadi semangat lagi ngadepin ujian. Aku juga jadi kepengen kuliah karena aku. Aku pingin ngambil matematika, Kalo aku kuliah kira-kira kita bisa ketemu lagi nggak ya dek?” aku mengabaikan pesan itu. Bukan apa-apa sebenarnya. Aku hanya tahu, jika aku tak menyukainya, tak seharusnya aku memberikan banyak harapan padanya.

Suatu saat temanku bilang ke aku, “Aku liat relationship dia di fbnya. Ekarang dia udah punya pacar.”
“Oh...” Cuma itu yang bisa aku bilang. Syukur deh kalo dia udah punya. Aku palah bahagia, disaat aku masih terus menjomblo sampe sekarang, dia udah menemukan rumah singgahnya lebih dulu.
Aku yakin, suatu saat nanti, Tuhan akan memberikan aku Jodoh yang lebih baik jika aku mau konsisten dengan keyakinanku yang sekarang : pacaran itu nggak boleh.

Kamis, 02 Januari 2014

Islam, Titik

Sebelum banyak omong, aku kepengen ngelurusin tentang masalah yang lumayan mencemari image tentang aku. Meskipun aku yakin, yang baca blog ini cuma aku doang, tapi seenggaknya, aku jadi ngerasa lumayan lega kalo udah menuliskan semua unek-unek yang lagi aku pikirin.
Baru aja tahun baru. Baru aja bikin resolusi baru. Palah aku denger hal yang nggak enak. Aku shock. Shock setengah mati meski itu bukan masalah yang besar sih. Waktu temenku ngasih tau aku kalo beberapa waktu yang lalu, aku sempet jadi gosip di pondok cowok gara-gara nama facebooku ada unsur kata 'wahaby'nya. Sumpah demi Allah, aku nggak ikut golongan Islam apapun. Apalagi Islam sesat. Aku juga bukan orang fanatik yang hanya condong ke Islam Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, atau yang lainnya. Aku cuma Islam aja, titik.
Semuanya berawal dari sepupuku yang pake nama facebook ditambahi marga ayahnya. Berhubung aku nge-add saudara-saudara jauhku yang ada di Kalimantan, Jogja, sama Cilacap, aku ikutan pake nama marga bapaku dibelakang, biar saudaraku tau itu bener-bener aku. Gitu maksudku. Marga bapakku Hasbi. Tapi gara-gara aku orangnya grasa-grusu, pas nulis hasbi, 's'nya ketinggalan. Niatnya mau Wa Hasby, ealah palah jadi Wahaby. Begonya lagi, jauh sebelum itu, aku udah pernah baca dimajalah tentang aliran wahaby, tapi aku nggak inget itu tentang apa. Belakangan, aku inget kalo itu Islam sesat.
Shock banget. Pusing. Padahal tadinya mau bikin silabus buat UN inggris, gara-gara denger itu aku nggak jadi bikin. Cuma tiduran, pasang selimut tinggi-tinggi sambil istighfar banyak-banyak. Gairah hidupku serasa hilang. Temen-temen yang aku ceritain tentang itu cuma nanggepin dengan bilang aku nggak usah lebay, toh kejadiannya juga udah lumayan lama. Tapi aku nggak bisa. Buatku, mau lama ataupun baru apa bedanya? Aku bakal tetep dikira perempuan beraliran sesat hanya karena salah nama akun facebook doang. Emang seempati apapun orang sama kita, tetep aja nggak akan pernah mampu ikut merasakan perasaan kita. Kebanyakan cuma kasih solusi ngasal lalu nggak peduli.
Sedih? Jelas. Aku emang orang yang gampang stres sama 'tanggapan orang tentang aku' dan ini kebiasaan buruk yang perlu dirubah,.Tapi, nggak perlulah jadi orang yang terus-terusan sedih. Nggak merubah keadaan. Pengen banyak-banyak berdoa aja, biar aku dijadikan orang yang lebih baik ke depan sama Allah.
Bapakku Islam N.U. Walaupun semua temen baiknya Muhammadiyah, tapi dia nggak terpengaruh. Tetep Nu. Ibuku juga N.U. Masku dari sd sampai kuliah terus berubah, awalnya N.U terus jadi Muhammadiyah, terus sekarang Salafi. Sedangkan mbaku, dia Islam Tarbiyah.
Kalo aku? Aku Islam aja. Titik. Nggak pengen pake embel-embel apapun. Karena menurutku, embel-embel cuma menciptakan jarak dan memberikan tanda kalau kita 'berbeda'.
Pas jaman mts, aku sedikit terganggu dengan guru matematika yang suka menjuluki islam golongan 'celana cungklang'. Aku cuma mikir, la terus kenapa kalo mereka cungklang? Apa merugikan pak guru? Menurutku sih nggak.
Ada juga Islam yang ngomongin golongan Islam yang lain, "Masa Islam yang itu kalo ada orang meninggal nggak ada tahlilan, nggak ada 7harian. Langsung dikubur. Kaya Ayam. Mati terus lempar."
Ada lagi Islam yang kalo ada Islam golongan lain shalat di masjid mereka, langsung deh di pel. Dianggap najis. Astaghfirullah. Bukankah Tuhan kita sama-sama Allah? Bukankah nabi kita sama-sama Muhammad dan pedoman kita sama-sama Al-Quran dan hadis?
Islam yang satu meneriaki Islam yang lain kafir. Islam yang satu itu membalas dengan mengatai Islam garis keras. Begitu terus. Sama-sama Islam tapi saling memusuhi gara-gara merasa menjadi Islam yang 'paling benar' dari Islam yang lain. Padahal udah tahu kalimat Wallahu a'lam. Allah yang lebih maha tahu kan? Terus kenapa harus saling menghakimi? Sekeras apapun manusia berusaha membuat dunia ini menjadi seragam, itu mustahil terjadi. Setiap orang punya pandangan hidup yang berbeda dan orang lain nggak punya hak untuk memaksa seseorang yang lain untuk mengikuti pandangan hidup yang dianutnya.
Hanya karena batas-batas yang diciptakan manusia, Islam menjadi sesuatu yang dikotak-kotakkan. Ibarat susu yang diolah jadi susu vanila, susu coklat, susu strawberry. Terlalu sibuk memusingkan perbedaan sampai tidak bisa terlihat sebuah kesamaan, sama-sama susu.
Padahal, banyak hal lain yang perlu mendapatkan perhatian lebih. Contoh kasat matanya illuminati. Contoh kecilnya, di SMK tempatku sekolah, mushalla selalu kosong. Padahal jumlah murid non muslim nggak banyak dan semua siswa kelas tiga ada 200an lebih. Tapi yang shalat selalu nggak lebih dari 20 anak. Hobi nongkrong sambil minum minuman keras. Banyak yang nyobain drugs. Buta huruf arab. Sampe yang aku denger pas pelajaran waktu anak cowok ada yang lagi ngobrol tentang suka minta bantuan jin.
Menurutku daripada sibuk memerangi perbedaan, merekalah yang lebih perlu ditolong untuk ditunjukkan Islam yang bener.
Dari awal, Islam itu rahmat. Dan sampai akhirpun akan selalu begitu.
Meski orang tuaku N.U, kakakku salafi, dan mbakku Tarbiyah. Meski kakak iparku bilang pemikiranku liberalis, aku tetep milih buat jadi Islam aja. Aku hanya ingin menjalani apa yang kuyakini benar. Karena beginilah caraku memandang hidup.

Jumat, 27 Desember 2013

[Monolog]ONLY TEARS

deviantart.net

Disclaimer : Segala sesuatu tentang Lagu only tears dan liriknya adalah milik Infinite. Tapi, monolog ini milikku.
Aku mencintaimu.
Tapi...maafkan aku.
Untuk kali ini dan seterusnya, aku sudah tidak bisa melakukan itu lagi. Aku sudah tidak mampu menanggung semua rasa sakit itu lebih lama lagi. Aku tidak lagi punya kemampuan untuk mencintaimu setelah ini. Kurasa, ini tidak benar jika aku berpikir suatu saat nanti aku akan menjelma menjadi seseorang yang dekat denganmu. Seseorang yang berharga dihidupmu.
Jangan cintai orang seperti aku. Aku bukan seseorang yang mudah untuk memberikan hatiku. Tapi tidak padamu. Awal dimana aku mencintaimu adalah permulaan dari hari-hari yang terasa berat. Aku menjalani hidupku setiap harinya diluar kesanggupanku. Hari demi hari yang kulalui terasa begitu banyak dihinggapi kesedihan.
Jadi, aku mulai menangis. Aku tidak mempunyai apapun untuk kuberikan padamu, bahkan untuk memberikan padamu hatiku. Tapi kurasa, aku merindukannmu. Aku tidak pernah mengatakan padamu kata-kata cinta. Tapi, aku merindukanmu. Aku tidak pernah berbesar harapan jika suatu saat nanti kau akan menjadi milikku. Tapi, aku merindukanmu. Jadi, aku mendesakmu agar kau pergi menjauh. Dariku. Karena aku hanya seseorang yang tidak memiliki apapun, tetapi hanya memiliki sebuah hati.
Aku mempertahankan perasaanku padamu lagi. Meskipun itu semua begitu terasa menyakitkan. Meskipun air mata adalah benda yang berharga bagiku, tapi dengan mudahnya, aku sudah membuangnya begitu banyak hanya untuk menangisi perasaan sia-siaku untukmu. Aku tidak pernah merasa beres ketika aku menatap sosokmu dari jauh. Selalu ada hal yang membuat sudut hatiku terasa nyilu.
Jangan melihat kearahku juga. Aku tahu bahwa hatiku selalu ada dimanapun kamu berada. Engahan nafas kita yang terpaut cukup dekat. Selalu berada disana. Di tempat yang sama. Aku mencintaimu melebihi siapapun di dunia ini. Aku mencintaimu. Jadi, aku mempertahankannya. Mempertahankan perasaan menyakitkan yang hanya kutanggung sendiri itu.
Aku bahkan tidak bisa untuk sekedar memegang tanganmu. Tapi, aku merindukanmu. Aku takut. Aku hanya punya air mata untuk mampu bertahan. Lagi-lagi aku merindukanmu. Aku tidak sanggup untuk memintamu tinggal dan menetap disisiku. Tapi sekali lagi, aku merindukanmu. Kurasa ini semua terlalu banyak. Tapi pada akhirnya, ini hanya karena aku seseorang yang tidak memiliki apapun selain sepotong hati.

Galau PTN



Hari gini kalau masih galau cowok kayaknya udah rada bosen gitu. Secara udah kelas 3 men, apa lagi yang pantes digalauin kecuali madep alias masa depan. Aku aja kali yang galau, yang lain mah nyantai-nyantai aja kayaknya haha. Di kelas, kalo pas lagi ada acara seminar ato acara apa yang gurunya nanya ke muridnya kira-kira setelah lulus mo ngapain. Semuanya jawab mau kerja. Iyalah, secara ini smk. Semua anak orientasinya ya kerja. Tapi aku murid satu-satunya yang dengan pedenya memproklamirkan diri mau nerusin kuliah. Padahal kalo dibandingin murid-murid lain aku termasuk murid terbelakang soal nilai dan soal loading mikir. Kenapa yang udah pada pinter komputer sama jaringan pada ngebet banget sih pingin kerja. Kenapa nggak nerusin kuliah buat mendalami ilmu itu aja? Pada udah nggak sabar megang uang punya sendiri kali ya.
Sumpah galau. Aku Cuma murid smk swasta pinggiran tapi aku pengen masuk univ yang bagus. Pengen masuk sastra inggris padahal bahasa inggrisnya bisanya cuman yes no yes no doang. Mana sastra inggris pasing gradenya tinggi lagi.
Aku nggak punya tujuan perguruan tinggi, aku niatnya mau daftar sastra inggris sama ilmu komputer. Cari mati nggak sih ya ini? Dua-duanya jurusan favorit. Kalo nggak lulus dua-duanya? Aaah...
Sebenernya jurusan yang paling cocok ya teknik, paling enggak ya pengennya ke juruan yang jelas-jelas isinya tentang teknik. Tapi siapa sih aku? Murid smk swasta pinggiran yang terakreditasi B, yang hobinya bolos sekolah, yang rangkingnya tenggelam, yang suka males ngumpulin tugas. Yang udah kayak nggak niat sekolah abis lulus langsung nikah.
Mikirin itu aja kaya yang udah belom sempet daftar di univ negri, baru nyampe radius 10 meter dari gerbang udah diusir aja sama satpam, suruh pulang nyari jangkrik aja di sawah. Ih. Pusing!
Aku selalu berusaha buat memperhatikan dengan seksama walau sengebosenin dan sengantukin apapun pelajarannya biksu Tong, begitulah temen-temenku menyebut guru mata pelajaran bimbingan konseling yang katanya mirip gurunya sun go kong itu. Pas temen dari lain kelas tanya ke aku tadi kelasku abis pelajaran apa, aku jawab abis pelajarannya biksu tong, eh dianya nanya guru yang dimaksud biksu tong itu siapa. Oh, berarti sebutan biksu tong awalnya yang bikin anak kelas TK1 aja tuh. Kemaren aku sempet konsultasi tentang kegalauan hati ini setelah lulus SMK entar. Sebelumnya aku pusing. Setelah konsultasi, hasilnya...malah makin pusing. Pak biksu tong nggak bakal baca atau nemuin blog rakyat jelata yang nggak penting ini kan ya? Kalo sampe tau bisa-bisa hidupku udahan, kaya siswa-siswa baru anak kelas satu yang kepergok sama biksu tong lagi ngerokok berjamaah di mesjid yang letaknya lumayan jauh dari sekolah. Setdah, ngrokok kok di mesjid, kalo mau ngerokok ya di terminal bus aja sana. Malu-maluin sekolah *gaya lu zel, biasanya juga malu-maluin sekolah* Abis kepergok ngerokok, hidup mereka cukup sekian dan terima kasih lah pokoknya hehe. Mereka digiring ke lapangan buat ngabisin rokok sintren satu bungkus. Jadi tontonan siswa-siswi sekelurahan. Haha gilee. Apa nggak memble tuh bibir. Nggak tau deh abis kejadian itu, apa mereka ngerasa malu dan nyesel, atau palah bilang dalem hati “Lumayan lah dapet rokok gratis sebungkus. Sering-sering aja ya pak. Mwah :* #civokbiksutong
Pak biksu tong itu orang penting. Soalnya biksu Tong satu-satunya orang yang bakal aku kejar-kejar setelah lulus sekolah entar. Bukan Cuma aku, anak-anak lain juga. Bukan ka
rena pak biksu tong maling dikejar-kejar terus mau digebukin. Bukan juga karena ngejar-ngejar pak biksu tong buat minta dijadiin pacar. Tapi karena pak biksu tong adalah ketua bursa kerja khusus yang kerjaannya nyalurin kita-kita ke PT nanti kalo udah lulus. Mata ini selalu sepet tiap kali pelajarannya pak biksu tong. Ngantuk. Tapi aku nggak boleh ngantuk! Aku harus tetep melek karena pelajaran ini menyangkut tentang masa depanku. Tentang surat lamaran kerja, pendirian tempat usaha, kematangan emosi, wawancara kerja, dan yang lain-lainnya.
Pas aku konsultasi, kata pak guru nggak usah muluk-muluk kepingin univ yang bagus.
 Wah sedih. Bukan sedih karena pak biksu tong ngomong gitu. Tapi sedih karena liat kenyataan, seorang guru membatasi mimpi muridnya.