Senin, 27 Juli 2015

Linguistik dan Masa Lalu


                                                         (Credit picture to the owner).

Linguistik. Aku agak sebel sama mata kuliah itu. Merumitkan suatu hal yang sebenarnya sederhana. Tapi aku kemudian ngerti kenapa aku sekarang disesatkan di kelas linguistik. Kadang-kadang, tanpa kita sadari, apa yang terjadi di masa sekarang atau yang akan datang adalah imbas dari kehidupan kita di masa lalu.
Dulu waktu aku kecil, setiap kali mudik lebaran, keluargaku pasti berhenti di banyumas buat istirahat.
Aku bener-bener penasaran dulu, kenapa sih namanya banyumas? Jadi, setiap jeda perjalanan mudik, aku sering jalan-jalan di sekitar tempat yang ada genangan airnya, seperti soloran dan kali. Mengamati setiap soloran yang bisa kutemui. Tapi, warna airnya sama aja tuh, bening. Nggak emas. Terus kenapa namanya banyumas? Aku tanya sama ibuku, kenapa namanya banyumas, ibuku cuma bilang emang udah kaya gitu dari sononya. Pas aku tanya sama bapakku, dia jawabnya mungkin ada cerita rakyat yang menceritakan kalo dulu di daerah situ ada sungai yang airnya berwarna emas.
Di mudik lain hari, aku masih kepikiran hal yang sama karena belum menemukan jawaban.
Jadi suatu saat aku nitip temenku yang udah sekolah buat beli kalung imitasi berwarna silver di bapak-bapak yang suka jualan mainan di sd-sd karena aku belum sekolah. Aku beli kalung itu buat melakukan percobaan pada air soloran di banyumas.
Waktu kita berhenti di banyumas, kebetulan kita istirahat di tempat yang deket soloran. Meski soloran, airnya terbilang bening.
Aku turun ke soloran itu, berusaha nyelupin kalungku ke airnya. Setelah mencelupkannya, aku menunggu lama. Tapi tidak ada yang terjadi. Warna kalungnya tetep silver, nggak berubah jadi emas.
"Kamu ngapain disitu? Ntar jatuh!" teriak ibuku yang baru menyadari keberadaanku di dekat soloran.
Aku menjawab dengan begonya, "Aku cuma penasaran aja bu, apa kalo aku nyelupin kalung ini ke air di banyumas, kalung silver ini warnanya bisa  berubah jadi emas?"
Aku nggak tau apa yang ibuku lakukan setelah mendengar perkataanku itu. Mungkin dia lari pulang ke rumah sambil nangis, "Ya Tuhan, kenapa kau anugerahi aku anak sebodoh dia? KENAPA??? KENAPA!!!"

      Aku suka mengamati sekitar, dan itu membuat kepalaku penuh dengan pertanyaan. Kenapa begitu? Kenapa begini? Kenapa seperti itu? Tapi kemudian, lingkungan mengguruiku bahwa kebanyakan orang risih dengan orang yang banyak bertanya sepertiku. Katanya, banyak tanya itu kampungan. Katanya, banyak tanya itu menunjukkan kebodohan. Sejak saat itu, aku jarang bertanya pada orang. Aku mulai bertanya pada angin yang berhembus dan rumput yang bergoyang #halah
Bukan, bukan, yang bener aku mulai bertanya sama google.
     Aku disibukkan dengan kehidupan. Aku bahkan lupa pernah tidak bisa tidur hanya karena memikirkan makna nama banyumas, tapi sebuah tulisan di buku linguistik membawa ingatan itu padaku kembali. Kata pelajaran linguistik, sifat bahasa adalah arbiter, nama banyumas adalah hasil kesepakatan dari beberapa pihak dan tidak ada kaitannya sama sekali dengan materi.

Buruk Sangka Sama Allah



Waktu aku masih jauh lebih bodoh daripada sekarang, aku pernah buruk sangka sama Allah.
Itu adalah ketika aku sudah terombang-ambing sedemikian parah setelah ujian nasional dan palah berakhir di sebuah sekolah yang bisa ku judge sebagai 'the worst school i ever attend' (dengan terlebih dahulu mengumpulkan banyak acuan-acuan sampai aku bisa menyimpulkannya demikian).
Dengan bodohnya, aku pernah marah dan bertanya-tanya, kenapa Dia melakukan ini padaku?
Apa Dia ingin menghukumku karena aku seorang hamba yang pembangkang?
Di madrasah saja, aku seseorang dengan watak tidak terlalu patuh pada sistem sekolah dan sekarang? Ia palah menempatkanku di suatu tempat dimana rata-rata siswanya kurang bermoral (Kebanyakan, tapi nggak semuanya. Alhamdulliah temen-temen sekelasku kebanyakan orang baik-baik. Yang perempuan sih, aku nggak tau kalo yang cowok. Aku nggak bergaul sama mereka.)
Dia menempatkanku disuatu tempat yang sangat mendukung seseorang untuk menjadi orang yang buruk-menurut sudut pandang kebanyakan orang.
Kenapa Dia palah menempatkanku di tempat seperti ini?
Apa Dia sengaja?
Sengaja membiarkanku menjadi orang yang jauh lebih buruk dari yang dulu-dulu? Apa maksudnya melakukan ini? Apa dia sudah malas denganku?
Malas pada hamba yang tidak tahu diuntung sepertiku ini?
Aku mulai mempertanyakan banyak hal, tetang arti, mempertanyakan tentang apapun yang kujumpai dihidupku. Mempertanyakan orang lain, mempertanyakan diriku sendiri. Mempertanyakan segala yang kulihat, segala yang kurasakan, segala yang kulakukan, segala yang kudengar dan segala hal yang sedang terjadi.
Aku terus saja menganalisis segala sesuatunya secara berlebihan. Aku bahkan sengaja sering membolos sekolah hanya untuk berpikir dan merenung di pojok kamar pengapku.
Aku kesulitan dalam menentukan apa yang seharusnya jadi prioritasku dan apa yang sebaiknya kuurus di belakang. Aku dan kehidupanku--sungguh berantakan.
Aku selalu melakukan sesuatu tanpa pernah benar-benar mengerti apa yang sedang kulakukan, apa arti dari yang sedang kulakukan dan apa imbasnya jika aku melakukan hal itu.
Sebenarnya, aku sudah berada di suatu tempat dimana aku bisa belajar apa yang sebenarnya sudah ingin kupelajari sejak lama, komputer. Tapi karena aku merasa frustasi dengan hidupku dan merasa berada di tempat yang tak seharusnya, aku jadi menjalani semuanya dengan setengah hati. Aku berangkat sekolah hanya untuk membubuhkan tanda tangan di kertas absen, tak lebih. Aku masuk sekolah, kadang-kadang, tapi tak ada yang benar-benar masuk ke kepalaku. Ketika pelajaran, aku lebih suka menatap keluar jendela untuk melihat awan dan ketika waktunya mengumpulkan tugas, aku hanya menurun pekerjaan temanku saja. Otak di kepalaku telah lama macet entah sejak kapan, aku sendiri tidak sempat menyadarinya.
Aku hanya baru sadar sekarang jika aku lulus dari sekolah dengan predikat hanya sekedar lulus. Aku tak kompeten di bidang apapun yang pernah kupelajari disekolah.
Ya, aku hanya buang-buang uang orangtuaku disana dengan tidak mendapat apapun disana selain sebuah ijazah dengan nilai yang tak bisa dibilang membanggakan. Tapi aku mendapat banyak hal berupa pelajaran kehidupan yang bagiku jauh lebih berguna untuk kehidupanku daripada nilai-nilai akademis yang tertulis diatas selembar kertas yang kata orang bisa ditukarkan dengan kemapanan di masa depan jika aku mencetak angka-angka yang bagus disana. Aku mendapat pelajaran-pelajaran kehidupan yang membuat persepsiku tentang kehidupan berubah beratus-ratus derajat. Tidak seperti bayanganku di awal masuk sekolah, semua keburukan yang kujumpai di lingkungan sekolahku dulu palah mengajarkanku untuk menjadi orang yang lebih bijak dalam menyikapi hidup.
Aku mendapatkan pengalaman hidup yang kupikir--mungkin takkan kudapatkan jika aku berada di sekolah yang 'bener' versi kebanyakan orang.
Mengantri wudhu dan mengantri memakai mukena sekolah di jam-jam shalat duha dan dzuhur adalah pemandangan yang biasa di madrasah tsanawiyah. Tapi ketika aku smk, aku benar-benar kakaget dengan mushola sekolah yang selalu kosong. Ada juga masjid di dekat sekolah. Ada beberapa anak laki-laki yang pergi ke sana, bukan untuk shalat jumat berjamaah, tapi untuk merokok berjamaah.
Ada 240an anak lebih di angakatanku waktu itu. Belum anak-anak kelas 2? Kelas 3? Tapi tidak ada orang yang bisa aku dan temanku temui di sana selain pak guru elektronika yang terkenal alim itu. Ke mana orang-orang? Kenapa mereka seperti ini?
Karena di madrasah shalat adalah hal yang dilakukan semua orang, aku jadi tak bisa mengambil banyak pelajaran dari itu. Tapi ketika di smkku, shalat adalah sesuatu yang hanya dilakukan oleh segelintir orang disekolahku, aku jadi mendapat pelajaran, aku termasuk orang yang cukup beruntung karena Allah masih memberiku hidayah untuk menganggap shalat itu penting.
Aku jadi sedih, bahkan aku adalah orang yang seburuk ini, tapi Dia masih saja selalu peduli padaku. Peduli pada siswa-siswi disekolahku. Tidak peduli orang seberapa buruk apapun aku ini, Dia selalu disana, mengabulkan semua hal yang kuminta, menghindarkan segala hal buruk yang sekiranya bisa menimpaku, menjagaku dari pengaruh buruk lingkunganku dan mendengar semua keluhan yang kusampaikan padanya tanpa kutahu.
Dengan pengalaman langsung, aku jadi memahami tentang pepatah yang mengatakan, tidak semua hal buruk membawa kita pada kesedihan dan tidak semua hal baik membawa kita pada kebahagiaan. Satu hal yang begitu kusyukuri dari semua hal buruk yang telah kulalui, aku jadi menyadari jika ternyata, Dia adalah Tuhan terbaik yang pernah kupunya.

Sabtu, 27 Juni 2015

The Absurd Sister [2]

Semester ini aku cukup stress. Sebelum kuliah aku nggak pernah jerawatan di pipi. Tapi kali ini, jerawatku banyak banget. Kalo aku lagi stress, aku perlu pulang ke rumah buat ngilangin stress. Tapi pas pulang ke rumah, terus baca-baca kertas uas adekku, aku palah tambah setress.


Pertanyaan nomor 3. Jika ayah sedang sakit maka perannya digantikan oleh...? Adekku jawabnya Paman. Astaghfirulloh, sejak kapan ibu ada main sama paman? -____-
4. Ringan sama dijinjing, berat sama di...? Adekku jawabnya gotong -___- Emang keranda mayat digotong? -___- 
Aku juga liat jawaban temen sekelas adekku dan jawabannya sama-sama digotong. Entah mereka punya ikatan batin atau apa .-.


Nomer selanjutnya. Gotong royong dapat mempererat tali...? Adekku jawabnya tiang. Temennya adekku jawabnya tali gantung. Temennya yang lain jawabnya tali temali. Ya amfuuun anak-anak ini -____-


16. Selain kerjasama di lingkungan sekolah, kerjasama juga dapat dilakukan di lingkungan...? Adekku jawabnya UKS. Kerjasama sama siapa di UKS? Sama betadine? -____- Jomblo terakreditasi A -___-


1. Birrul walidain adalah...? Adekku jawabnya Malam Yang Indah -___- Aku nggak nyangka adekku sepuitis itu :| Birrul walidain itu berbakti kepada kedua orang tua wey -____-


5. Rido Allah tergantung pada rido...? Adekku jawabnya palah rido malaikat -___- Kenapa gak rido roma aja sekalian? -___-


15. Bicaralah dengan orang tua dengan bahasa yang lemah...? Adekku jawabnya lemah gemulai. -___- Berasa tiba-tiba berubah jadi maho setelah baca tuh soal *jedoti2n kepala ke tembok*


Kiamat versi adekku. Matahari terbit di sebelah selatan.


20. Lingkungan sekitar harus di...? Rusak -___- ckckck anak muda jaman sekarang *elus jenggot*



5. Melihat teman berkelahi kita harus...? Adekku jawabnya membiarkan. Adekku mah orangnya gitu --"



8. Iqamah adalah tanda bahwa shalat akan segera...? Adekku jawabnya Dimadu :(
Shalat aja dimadu, apalagi kamu :'(


Jawaban macam apa itu -___-


Anak kecil aja udah berpendapat kaya gitu :|



Masa fakir miskin disuruh makan surat kabar -___-


Dasar adekku -___-

The Absurd Sister [1]




Adek perempuanku yang satu itu emang agak absurd. Dia anak kelas 2 MI yang naik tingkat jadi anak kelas 3 tahun ini. Dia suka pura-pura tidur kalo disuruh bapakku buat shalat. Tapi langsung bangun kalo film Adit dan bang Jarwo udah mulai. Dasar kembarannya bang Jarwo.
Dia juga suka ngambek kalo pas ngaji disuruh baca ulang ayatnya--ngambek karena dia ngerasa udah bener bacanya.
Karena nada ngomongnya yang keras, dia terkesan galak. Hobinya nonton sinetron menye-menyenya sctv. Suka protes sama sesuatu yang nggak sesuai sama apa yang dia ketahui. Selai  itu, dia juga alay. Dan jayus. Waktu dia tk, pas ada iklan tv tentang roti malkist, dia komentar, "ih kok malkis? Mirip sama nama temenku, Balkis."
Dia emang suka gitu. Kemaren aja waktu ibuku tanya tentang temennya yang namanya Kinanti, dia jawab, " Iya, Kinanti. Dipanggilnya Anti. Anti pecah."
Aku cuma yang -___,- emangnya dia ember? Anti pecah segala -___-
Biasanya kalo bapakku ngerjain prnya tapi kata-katanya agak aneh buat dia, dia bakal protes. Pilihan kataku waktu aku disuruh ibuku buat bantuin dia ngerjain pr juga pernah di protes.
"Ini yang mahasiswa sastra aku apa kamu heh? -____-"
Dia pernah beli kalung di pasar malem. Kalung yang bandulnya berbentuk huruf. Karena adekku namanya Amalia, harusnya dia pilih huruf A buat insial namanya. Tapi apa yang dia beli? Huruf P.
"Kamu kan inisialnya A, masa belinya P, nggak nyambung."
"Biarin. Ini tuh kepanjangannya pasar malem, Kan aku belinya di pasar malem, jadi aku belinya huruf P."
Alasan absurd -___-

Kemaren kata ibuku, waktu temennya nggak sengaja nemu diary dia pas main rumah-rumahan bareng, temennya nanya ke adekku, "ini diarymu?" Adekku ngelak, "Bukan, itu diarynya mbak Ifa kok!"
Wah wah wah dasar -____-
Waktu kita lagi nonton tv bareng dia curhat tentang ustadznya yang menurut dia lucu karena jenggotnya panjang dan suaranya kaya cowok di iklan hexos yang ngomongnya, "Mama, mau ini? Mau itu?"
Terus dia nanya, "Mbak, kemaren di pesantren kilat ada soal, Adam sama hawa diusir dari surga karena makan buah apa ya?"
"Ya Khuldi lah."
"Yaah, aku salah deh."
"Emang kamu jawabnya apa?"
"Adam dan hawa diusir dari surga karena makan buah jeruk."
"Li, cegurin aja mbak ke samudra hindia li :("

Penghianatan.




Kalau seandainya dahiku kaya layar sentuh hape android yang ada tombol-tombolnya, aku ingin menandai ingatan-ingatan menyedihkan di masa lalu dan membersihkannya.
Tapi isi kepalaku bekerja seperti komputer.
Meski aku telah menghapusnya dari direktori--ingatan ingatan itu--ia masih menetap di recycle bin.
Ingatan itu hanya seperti virus yang sedang dikarantina yang suka menggandakan diri--yang suatu saat akan kembali dan kembali lagi.
Dan seperti sebuah penghianatan--dimana bagian paling menyakitkannya adalah ia datangnya selalu dari orang terdekatmu, bukan dari pihak musuhmu-- pada perasaan, logika inilah yang mengundang ingatan menyakitkan itu kembali.

I Know That Feel, Bro!




Sebenernya aku nggak terlalu suka nulis. Tapi kalo aku nggak nulis, aku pasti bisa gila.
Sebenernya aku malu ketika tahu tulisanku dibaca orang lain.
      Misalnya, dulu waktu masih sd diaryku dibaca sama masku dan diceritain ke orang sekeluarga. Dan semua orang menertawakan tulisanku. Dititik itu aku bener-bener ngerasa malu dan pengen memutuskan untuk nggak usah nulis-nulis lagi. Padahal diarynya udah dikasih gembok, tapi sama dia, gemboknya dirusak.
Bapakku juga cerita ke mbakku kalau waktu aku kecil, dia pernah nemuin sobekan kertas di bawah lemari yang berisi tulisanku waktu dia lagi nyapu. Isi kertas itu tentang curhatanku kalau bapakku pilih kasih. Meski itu sudah belasan tahun yang lalu, anggapanku tentang itu tidak pernah berubah sampai sekarang, bagiku dia masih tetap pilih kasih.
Kemarin, waktu aku telepon ibuku, dia curhat tentang adekku yang baru keluar dari rumah sakit. Adekku itu emang udah suka nulis-nulis di sembarang kertas, dan setelah pulang dari rumah sakit, dia dikasih hadiah termasuk diary sama temennya bapakku. Disana, dia rutin curhat.
"Ibu baca tulisannya dia, lucu banget deh curhatannya. Dia suka nulis..." kata ibuku yang aku jawabi dengan oh, sebelum dia menyelesaikan perkataannya.
"kaya kamu..."
Deg! Dititik itu, rasa malu datang menyerangku lagi.
Sebelum ini, ibuku nggak pernah bilang kalo dia notice tulisan-tulisan acakku di buku-buku tulisku. Aku juga nggak pernah berpikir kalau dia bakal tau tentang itu.
Tapi wajar sih kalau dia tau, karena tulisanku bukan cuma ada di satu atau dua buku tulis, tapi sampe satu kardus lebih. Itu yang masih bisa aku buka-buka lagi di rumah, yang dulu-dulu, yang udah di loakin, mungkin udah di recycle dan jadi kertas-kertas kosong yang dijual di toko-toko kelontong lagi sekarang.
Entah ini hanya delusiku saja atau apa, tapi mereka, alphabet-alphabet itu terus saja mengganggu kedamaian hidupku. Mereka terus memasaku untuk menuliskan mereka. Tugasku hanya menulis, menggerakkan tanganku saja, karena yang sesungguhnya merangkai cerita adalah alphabet-alphabet itu, bukan aku. Meski begitu, ada hari-hari ketika aku malas, tidak mengikuti kemauan mereka dan memutuskan melakukan hal lain daripada menulis.
Ketika aku memutuskan untuk tidak mengikat mereka dalam tinta dan memenjarakan mereka diatas kertas-kertas, mereka seolah marah dan terus mendatangiku, seolah-olah aku pemburu hantu yang didatangi arwah-arwah penasaran yang dengan suka rela menyerahkan diri mereka padaku, bahkan memaksaku untuk membelenggu mereka disuatu tempat agar mereka abadi.
Aku jadi teringat sebuah film yang berjudul "Anonymus". Film itu berkisar tentang teori siapa sebenarnya Shakespeare itu. Dan di film itu, mereka mengambil teori yang menyatakan kalau Shakespeare adalah nama pena dari Edward, seorang dari kalangan kerajaan.
Disana, Edward sering dimarahi istrinya karena dia selalu duduk sepanjang hari hanya untuk menulis, menulis, dan menulis. Pada zaman itu, zaman Elisabethan, adalah hal yang tabu bagi seorang anggota kerajaan untuk menulis hal hal seperti naskah drama dan roman.
Dia mengatakan pada istrinya kalau dia sendiri juga tidak mengerti kenapa dia seperti itu. Jika dia berhenti menulis, huruf-huruf di kepalanya itu terus menghantui hidupnya sampai rasanya mau gila. Mereka terus memaksa untuk dituliskan.
Itu sama sekali bukan scenen yang sedih, tapi aku ingin menangis. Baru kali ini aku merasa ada orang yang mampu memahamiku. Jika aku bisa masuk kedalam layar notebookku, aku ingin masuk ke scene film itu, berdiri disamping Edward, menepuk pundaknya dan berkata, I KNOW THAT FEEL, BRO!

Jumat, 19 Juni 2015

MOS : Masa Orientasi Sialan [lagi]


                  Credit picture to the owner.

Hari berikutnya, kita dikasih seabreg tugas baru. Disuruh beli es yang identik sama identitas sekolah. Awalnya aku nggak ngerti, dan salah beli warna. Ternyata ada anak yang dapet bocoran dari kakak kelas yang nggak ngospek, kalo maksudnya suruh beli es yang warnanya biru, soalnya seragam identitas kita nanti warnanya biru. Kita juga disuruh bawa nasi kuning, sayurnya sayur rambut nenek lampir -yang aku dikasih tau sama anak yang dapet bocoran- kalo maksudnya adalah mi bihun. Bawa bola-bola jerawat yang maksudnya adalah onde-onde. Ah ya! Disuruh cari uang logam yang keluarannya sesuai tahun kelahiran. Aku nyari ke banyak tempat tapi nggak nemu yang keluaran tahun 1996, aku dapetnya palah keluaran 2001 sama bonus limaratusan kertas yang ada gambar kakak kelas yang ngospek.
Susah tau. Uang logam warna kuning yang seratus perak gambar prajurit naik sapi ato naik apalah itu juga kebanyakan keluaran tahun 1998. Yah, aku nggak nemu, akhirnya aku dihukum.
Clue yang salah bawa pas disuruh bawa nagasari. Aku juga udah mikir-mikir kalo nagasari tuh makanan yang lembek dari gandum pati yang dalemnya ada potongan kecil pisang terus dibungkus pake daun pisang, tapi menurut temenku bukan. Menurut dia kita disuruh bawa buah naga, ya udah akhirnya beli deh buah naga 2, harganya 30 ribu per buah. Ya ampun, apes. Ternyata bukan buah naga. Bener kaya apa yang aku maksud, nagasari yang itu. Udah duit melayang 60 ribu (anak kos), salah, dihukum, nggak doyan buah naga lagi. Huft.
Besoknya lagi suruh bawa apaan lagi ya, lupa aku, yang aku inget cuma bawa apel 2, kopi 4, aqua 2 botol, pas disekolah dikumpulin pake karung sama kakak kelas, abis itu apelnya dipotong kecil-kecil dibagiin ke kita, suruh makan. Sisanya dikorupsi sama mereka. Dimakan sendiri sampe buncit.
Kukunya nggak boleh panjang, sepatu sama tali harus item semua, kalo nggak bakal dihukum. Waktu itu kukuku belum dipotong, jadinya kena hukuman. Suruh gigit semua kuku panjangku sampe lepas. Dijemur di lapangan, suruh baris berbaris, suruh push up yang banyak, abis itu suruh tengkurap di atas tanah buat meregangkan otot dan...ini nih yang paling aku benci. Cium tanah. Sumpah aku benci banget kalo disuruh cium tanah. Iya aku jomblo, tapi ya nggak pake cium tanah juga kali!
Ada sedikit pembedaan diantara kami murid baru. SEDIKIT. Jadi yang cantik-cantik dibeda-bedain sama yang jelek-jelek. Karena tampangku dibawah garis kemiskinan, aku ngerasain pembedaan perlakuan di banyak hal.
Kalo baris-berbaris, aba-abanya sengaja disalahin sama instrukturnya. Kita nggak pernah ada yang kepikiran buat instruksi setiap kali aba-abanya salah. Akhirnya kita dimarahin ini lah anu lah itu lah.
"KENAPA NGGAK ADA YANG INSTRUKSI? UDAH TAU SALAH KENAPA NGGAK ADA YANG INSTRUKSI?!" Kakak dewannya tereak-tereak sampe mulutnya mau soak. Hening. Nggak ada yang jawab. Apalagi aku, lagi diospek palah aku ngantuk banget. Efek libur panjang setelah UN yang cuma aku gunain buat tidur dan males-malesan dari pagi sampe pagi lagi sih.
"WOY! DEK! KENAPA NGGAK ADA YANG JAWAB? PADA KEMANA HAH? TIDUR? IYA? TIDUR?! JAWAB!!!" Takut saya. Takut keluar naga dari mulut kakak dewannya. Kalo aku tidur terus kenapa? Masalah? Hidup-hidupku kok.
Ada anak cowok murid baru yang saking betenya diperlakukan semena-mena sampe dia teriak kayak kesetanan ke kakak kelasnya,"ANJING!!!" Aku cuma bisa ngelus dada dan menabahkan hati. Kenapa aku bisa ada tempat kaya gini? Sekolah macam apa ini?!
Bukan cuma dia yang emosi, aku juga kali. Tapi aku woles aja lah. Kakak kelasnya mau ngomong apa aja juga biarin dah. Nggak usah dengerin. Ngapain peduli sama kata-kata mereka yang nggak penting itu. Buang-buang waktu.
"Turun! Cium tanah!" Aku turun deh, nyium tuh tanah. Kesian banget, bibir virgin saya di renggut sama tanah.
Tanahnya cabul.
"CIUM TANAH YANG BENER! KATANYA CINTA SAMA TANAH AIR!"
Yeee, siapa bilang? Daerahku palah penjual tanah air. Genteng maksudnya. Kan terbuat dari tanah sama air tuh.
Nggak mikir nih kakak kelasnya. Apa yang namanya cinta tanah air harus nyium tanahnya? Oh, kalo gitu berarti kalo kepala sekolahnya lagi pidato pas upacara, "Para guru yang saya hormati dan murid-murid yang saya cintai..." kepala sekolahnya turun dari mimbar terus cium muridnya satu-satu? Enak bener. Cinta tanah air? HAHAHA. Sekolah paling jelek sekabupaten ngomongin tentang cinta tanah air? HAHAHA. Gemes. Apa yang udah kamu lakuin ke negara ini sebagai wujud cinta tanah air kak? Hamilin anak orang yang notabene adalah menciptakan generasi penerus bangsa? [Smkku terkenal dengan banyaknya siswi yang hamil diluar nikah] Oh, bikin penerus bangsa baru ya? Wah, bagus sekali. #nyindir
Yang aku benci adalah, aku udah nyium tanah dengan segenap jiwa raga tapi palah...
"CIUM TANAH YANG BENER!!!" Kepalaku ditekan, diblusukin ke tanah. Dikiranya aku nggak bener nyium tanahnya. Sakit njir. Sakit banget hidung saya. Sialan, aku udah saking nurutnya mau nyium tanah palah diginiin. Hidungku kan gede, susah nempel ke tanah. Iya lah situ yang pesek gampang nyatu ama tanah, nah yang idungnya gede kaya saya?
Ada banyak hal yang terjadi di mos smk waktu itu, tapi hanya ini yang kuingat.
Satu kesan buat mos kali ini. Si-a-lan.