Hello, my lovely blog, udah lama banget nggak pernah posting apa-apa disini, hehe. I got busy, sibuk nganggur and being mentally ill so... hehe, nggak punya semangat buat nulis apa-apa. Tapi aku janji, kapan-kapan bakal mulai aktif nulis disini lagi. That's all i can write, for now, bye!
Rabu, 08 Desember 2021
Jumat, 16 Maret 2018
College Days Will Finally Be Over
Diposting oleh lovaliva di 21.45I love fanfiction. I like to read fanfiction since eight grade of junior high school. It's been nine years since. And I still reading fanfiction till nowadays. I'm in my very late college year now. I'm supposed to graduate this year. I really hope I could. I only read a fanfiction with my otp as the main ship (or sometimes side ship if the main ship is my side otp too) in the story. And also I like monogamous story when the romantic relationship only happen between two main characters. I can't read fanficitions when my otp are in a polyamorous relationship, I dont know I just can't, not trying to be offensive to polyamorous relationship's fan but as for me relationship supposed to be happen with only two person in it. I really like alternate universe fiction, especially if they were portrayed as college/university students akskskaksl i love it so much. I like it when one of the character is a broke college student who works part time in a coffee shop. I like it when the character is a grown up ass man who is still single and can't get his shit together. I like it when the story is angsty and a bit slow burn, and one of the character develop a mutual pinning with his crush. I like the story when the characters have a meet cute in a coffee shop or in a bar. And the most important over all of it is I like angst with happy ending. ajsjsjsjsjsskskskal i'm goin wildin. I'm not a huge fan of romance ( for god sake i'll turn into twenty fucking two years old this august and i still have never be in a relationship before if ya feel me) but if it comes to my otp's romance i'm all soft.
When I'm still in junior high school I thought later when I were in college I will finally get a boyfriend, but turned out I didnt get any d*ck at all. I thought i will be in a serious relationship with someone already in college, having someone to hang out with, someone who will accompany me eating, going shopping, someone who pick me up before and after class. Someone I can count my life on. But turned out i'm not a huge fan of my own life romance and I decided I didnt really need someone by my side to be my partner. I decided that I'm better alone because relationship is kind of a burden for me. I have a deep seated fear of intimacy and I have commitment issuess too, guess I would never get a boyfriend at all. Fuck i didnt even know wether i will get married or not someday. College life will really be over this year and everyone else seems doing fine with their life, idk about me, do I doing my life okay? or no? I dont know, I'm always feel lost and cofused all the time. I'm not a good college student, I'm not a straight-B student, let alone straight A, i have a lot of C and D (even E) on my study report. But it's all allright for me. I'm all okay with that. College is a real hard for someone as dumb as me but I am happy because I've come this far. I'm happy because there, in college, I learn a lot. Not literally learing in class but learn from a lot of mistakes and the wrong choices that I made. College life got me so broken and shits, I got bad grades, bump into wrong peoples, fake companions, homesick, a lot of debts, broke days where I really cant eat anything, losing keys and atm cards, losing my minds, cramming for exams, depression, mental illnesses, personality disorders, suck community service project, tumblrs, fangirling over oppars, come back to Allah, betrayals, enlightments, sudden realization, awakening, painful grow up, everything that makes me 'me' now. And the most interesting thing to be in college is I can have a life like in a fanfiction, like the life of my bias have in an alternate universe fanfiction college!student and i can feel relate to them as I read the fic and sipping over my cheap coffee that I bought at the basement of library when I go to library alone and all of the sensation that I feel through my college days, I could never been happier. Yes I'm broke. Yes I single and didnt have boyfriend since forever and didnt have cheesy rom-com love story as I thought I would when I was teenager, but it's all okay. Even without the things i used to thought i need, i'm still doing my life just okay. And I feel grateful to be a part of English Department Student of Sebelas Maret University. And If I were exist in some other universes, I hope the other version of me are doing fine with their life even if it turned out to not be as they wish. I hope they are grateful with every single little thing that happen in their life and see it as a magic, even if other people see it as ordinary things. Whoah, I'm getting emotional. Goodbye for now.
What Was Your Name Again?
Diposting oleh lovaliva di 19.55Senin, 03 Juli 2017
Personal Stuff
Diposting oleh lovaliva di 21.16Hello, my blog! A very long time not posting anything. I know it's very late but Happy Ied Mubarak, universe! This universe, alternate universe, and all universes!
I've been feeling really depressed recently. I am at my lowest. I've been suffered from depression since junior high school but just realized about it after i got into college. People always say I don't have it that bad. My depression, i mean. How can they commenting my life as If they are the one who living my life and not me? After a long time, I decided to trying open up about it to my dad but his reaction was just like his usual self, scolding me hard, telling me to regain my consciousness and just behave like everyone else.
Jumat, 08 April 2016
Senja Pernah Bercerita
Diposting oleh lovaliva di 01.43Ingatkah ketika, kita pernah menatap senja yang jingga
bersama-sama,
Kau tersenyum, akupun sama
Ingatkah kamu ketika, senja pernah bercerita pada kita bahwa,
Tak perlulah mengutuk kegelapan, karena ia menunjukkan betapa terangnya bintang-bintang
Tak perlulah mengeluhkan hujan, karena bagi sebagian, ia menyebarkan kesegaran
Senja pernah mengajarkan,
Tak perlulah merasa sedih, bila kita masih bisa tertawa
Tak perlulah merasa tak berarti, bila kita masih bisa berusaha tanpa henti
Tak perlulah merasa tertekan, bila kita masih bisa bernyanyi
Tak perlulah merasa tak mampu, selama kita masih bisa melangkah maju
Tak perlulah merasa ragu, bila kita masih bisa mendapatkan kepastian
Tak perlulah membenci kegagalan, karena ia memberikan pelajaran
Senja juga mengingatkanku pada masa-masa,
Ketika aku merasa semakim hari, kenyataan hidup semakin menekanku untuk percaya,
Kalau dunia ini telah banyak berubah dari yang semestinya,
Kalau dunia telah diselimuti kegelapan,
Kalau dunia telah disesaki peperangan,
Tetapi, senja yang terbentang didepan mata, lagi-lagi meyakinkanku untuk tetap percaya bahwa,
Dunia ini masih merupakan tempat yang nyaman untuk ditinggali,
Meski jika senja telah berbeda, begitupula dengan kita.
Sabtu, 27 Februari 2016
Curhat Colongan
Diposting oleh lovaliva di 02.52Udah lama nggak apdet blog gara-gara ngerasa kalo aku terlalu mengumbar aib kehidupanku tiap kali mosting curhatan di blog. Cuma bisa nulis-nulis gaje di aplikasi penyimpen catetan, tapi rasanya kurang lega aja karena cuma disimpen sendiri. Kalo aku nulis di blog, seenggaknya lembar-lembar dunia maya itu mau nampung curhatanku tanpa ngejudge kehidupanku.
Akhir taun ini aku lagi pengen banyak-banyak introspeksi.
Aku dikasih tau temenku kalo salah satu temen yang sudah kuanggap sebagai 'teman baikku' membicarakanku didepan orang lain kalau aku orang yang suka mereka-reka, berlebih-lebihan kalau sedang bercerita tentang kehidupanku pada teman-temanku. Kata dia, apa yang ku katakan tentang kehidupanku tidak sesuai dengan kenyataan. Kalo ditanya gimana perasaanku, jujur, aku sedih. Sedih karena dia nggak mengkomunikasikan aja langsung ke aku. Aku sudah terlanjur berasumsi bahwa selama ini kita adalah teman baik.
Aku introvert. Susah banget bagiku untuk bisa jujur dan terbuka sama orang lain tentang hidupku kecuali aku udah ngerasa kalo aku dan dia udah jadi teman yang lumayan dekat. Tapi pas aku cerita, aku palah dikira bohong. Tidak apa jika ada yang menganggapku pembual atau semacamnya, siapapun berhak untuk mengatakan apapun karena kita punya hak bebas berpendapat. Tapi setidaknya, katakan didepanku. Agar aku tahu salahku dimana, kurangku dimana, agar aku tahu apa yang perlu kuperbaiki dari diriku. Bukannya membicarakanku didepan orang lain. Aku takkan mengerti dan takkan sadar dimana kesalahan yang perlu kuperbaiki. Membicarakanku didepan orang lain takkan membuatku tersadar untuk melakukan perubahan sikap.
Kalo misalnya aku pembual, berarti aku pembual yang bego banget dong, ya? Karena aku terus bercerita soal betapa ngenesnya hidupku selama ini. Jomblo sejak lahir lah. Nggak punya temen deket di kosan lah. Selalu dapet nilai pas-pasan waktu ujian lah. Kalo aku pembual yang ulung, harusnya aku cerita yang wah-wah aja dong ya ke temen-temenku? Harusnya aku membual tentang punya banyak mantan-mantan kece yang tersebar di seluruh Indonesia aja, bukannya jadi jomblo hilang arah dan tanpa tujuan. Tapi aku palah sering cerita kalo orang yang aku suka selalu berakhir jadian dengan sahabatku. Kalo aku membual, berarti aku pembual yang bego banget kan ya? Harusnya aku membual kalo diluar sana ada cowok setamvan siwon, seswaggy G-Dragon dan sekaya Bon Jovi, sesetia Hachiko, sekece Zayn Malik, sealim ustad Felix yang mau nungguin aku sampe kapan aja dan bakal menikahiku suatu saat nanti. Tapi apa yang selalu aku bilang ke temenku? Aku sering bilang, mungkin aku nggak nikah kali. Soalnya aku nggak ada siapa-siapa disekelilingku yang sekiranya bisa diajak bangun rumah tangga kapan-kapan.
We, human, are fake creature. Aku sadar, sekeras apapun manusia berusaha jadi orang baik, pada akhirnya manusia tetaplah manusia. Punya iri hati, sisi gelap, kedengkian, ambisi, cita-cita, banyak lah. Aku sendiri nggak mengingkari kalau aku punya banyak sisi gelap yang sejatinya-jika aku hidup di dunia fantasi-ingin sekali kuwujudkan. I wanna be a villain so badly. Karena aku benar-benar muak menjadi diriku yang sekarang. Yang hidupnya terombang-ambing tanpa arah dan tujuan. Yang terus-terusan menjalani kehidupan ini ala kadarnya tanpa banyak berusaha seperti orang-orang lain. Aku benci diriku sendiri.
Kau, Aku dan Perasaan Ini
Diposting oleh lovaliva di 02.41Aku ingin tertawa. Tidak tahu kenapa, rasanya lucu saja bagiku. Rasanya seperti baru kemarin, kau dan aku berebut buku perpustakaan,
berebut sapu piket,
berebut bangku untuk duduk. Kau dan aku--maksudku 'kita' pernah berebut banyak hal.
Aku masih ingat sekali betapa isengnya kau waktu kita masih sering bersama-sama di kelas tingkat pertama. Saking kesalnya aku terhadapmu, aku sampai memukul punggungmu dengan buku cetak tebal dan merasa begitu menyesal telah melakukannya: karena hari setelahnya, kau jatuh sakit.
Kau selalu menggangguku, mengganggu tentang apapun yang sedang kukerjakan.
Kau merebut bolpoinku ketika aku sedang menulis.
Kau menyembunyikan tip-xku dengan sengaja ketika aku sedang benar-benar butuh. Saat itu aku merasa, kau benar-benar anak laki-laki sok pendiam di depan orang lain, tapi super menyebalkan ketika di depanku.
Jadi aku mencoba mengacuhkanmu, dan aku tak menyangkau kalau karena sikapku itu, perlahan hubungan pertemanan kita mulai jadi jauh.
Kau selalu berusaha buang muka jika berpapasan denganku di jalan, dan aku, sebagai seorang perempuan, tak mungkin ada niatan sama sekali untuk menyapamu duluan.
Selanjutnya, kita benar-benar seperti sepasang orang asing yang tak pernah saling mengenal.
Ketika tiba waktunya kita naik ke kelas tingkat kedua, saat aku tak lagi berada satu kelas denganmu, entah kenapa tiba-tiba saja aku mulai merasa aku merindukanmu.
Dari awal kita berteman, aku selalu merasa kalau dari sekian banyak teman perempuan yang kau punya, aku hanya salah satu dari teman biasamu yang lainnya. Meski kita berada di kelas yang berbeda setelahnya, aku masih sering memikirkanmu. Tapi disisi lain, aku tidak yakin kau pernah memikirkanku juga. Karena ketika kita bertemu, aku selalu jadi orang yang menunggu, tapi kau tak pernah tergerak untuk menyapaku lebih dulu. Aku ingin kau teringat padaku sesekali. Itulah kenapa dulu, aku selalu berusaha untuk berada di peringkat atas, Hanya agar namaku bisa tampak di matamu.
Kau tahu tidak?
Aku pernah memimpikan hal ini sebelumnya. Duduk berdua saja denganmu, membicarakan apa saja denganmu, dan tertawa lepas bersamamu.
Di mataku, kau masih orang yang sama. Kau masih laki-laki yang pernah kusukai pertama kali di sekolah menengah pertama. Akupun masih sama saja. Aku masih mantan teman perempuan sekelasmu yang pernah diam-diam menyukaimu.
Kemarin-kemarin, aku juga masih menganggap kalau belum ada satupun yang berubah diantara kita. Tapi, kau mau tahu tidak? ternyata, aku salah.
Apa kau tahu? dari saat aku sadar aku menyukaimu, aku tidak pernah melihat kepada laki-laki lain. Karena apa? Karena kau satu-satunya laki-laki yang kuharapkan.
'Lalu?' Begitu tanyamu padaku.
Lalu hari itu datang. Hari ketika aku menitipkan surat pernyataan perasaanku pada sahabatku. Tapi ketika orang itu telah sampai dihadapanmu, dia palah mengaku padamu kalau surat itu adalah surat yang ditujukan darinya untukmu.
Jujur, saat melihat itu, aku sakit hati sekali.
Padahal, kau tahu? aku begitu mempercayai dia.
Lama aku tidak berbicara dengannya. Hubungan kami jadi buruk.
Aku yang tersakiti disini. Tapi tidak tahu kenapa palah aku yang harus minta maaf duluan padanya.
Aku memintanya untuk jujur padamu tentang semuanya. Tapi ketika semuanya telah jelas, kau palah tidak bisa memutuskan untuk memilih antara aku dan orang itu.
Itulah kenapa dulu aku memutuskan untuk menyerah memperjuangkanmu.
Aku tidak mau jadi pilihan. Jika kau dibingungkan dalam kondisi antara ingin memilih aku dan memilih orang lain, tolong jangan pilih aku.
Aku tidak bisa menerima hal itu.
Tapi kemudian, kau masih bertanya lagi padaku, bertanya kenapa. 'Kenapa? Kenapa begitu?'
'Katamu kau menyukaiku sejak lama?'
'Lagipula itu semua sudah jadi masa lalu.'
'Sudah saatnya bagi kita buat memulai cerita yang baru.' begitu katamu.
Awalnya aku juga berpikir begitu. Awalnya, aku juga mengira kalau aku masih memiliki perasaan itu. Tapi ketika kita sudah duduk berdua seperti ini, ngobrol berdua seperti ini, aku menyadari kalau perasaanku padamu, juga sudah jadi masa lalu.
Minggu, 31 Januari 2016
Postingan Macam Apa Ini?
Diposting oleh lovaliva di 03.12Hi ma blog! Long time no see. Udah lama aku nggak ngisi blog, fufufu. Akhir-akhir ini aku lagi males nulis. qwertyasdfghjkl. Faktor lain sih karena lagi miskin cerita. Faktor lainnya lagi karena lagi galau gara-gara temen-temen sejomblo setanah airku sejak mts udah pada taken. Padahal waktu mts dulu temen-temenku nyaris jomblo semua, sekarang yang single cuma tinggal aku dan bayangan diriku. Hiks. #peluktianglistrikdeketrelkeretaapi #kesetrum
Kalo lagi chat sama temen-temen lama, terus nanya gimana sekarang hubungannya sama si anu? Kapan nikah nih? Pasti rata-rata jawabnya, "InsyaAllah secepatnya. Mohon doanya aja ya :))."
Oke aku doain. Pasti. Aku doain biar cepet jomblo lagi. Biar aku banyak temen jomblonya. HAHAHA. Nggak-nggak, aku nggak sejahat itu kok. Tenang aja. Masa udah jomblo, jahat pula. Apalah arti hidup ini kalo gitu.
Oya bloggy, sejak kuliah hidupku datar banget, nggak ada yang bisa diceritain. Maklum, aku cuma mahasiswi jelata yang kerjaannya kuliah pulang-kuliah pulang dan nggak kenal siapa-siapa selain temen sebelah bangku. Padahal pas SMK banyak banget hal yang bisa diceritain, tapi pas udah kuliah palah nggak punya cerita babar blas. Ospek jamanku juga biasa-biasa aja, nggak kaya MOS waktu SMK yang semi militer, jadi nggak ada bahan cerita. Ospeknya cuma disuruh joget, main drama dan lain-lain. Kalo dari sudut pandangku yang cuma mahasiswi jelata sih biasa-biasa aja ospeknya soalnya nothing happen, tapi kalo dari sudut pandang temen seangkatanku yang anak hitz mungkin beda deh.
Kalo menang hadiahnya cuma dikasih pin. Endingnya aku dapet pin paling banyak, tapi itu nggak bikin aku seneng. Dapet 2 pin kelompok karena menang 2 kategori: best of the best, sama best book of team. Satunya lagi pin best love letter : yang ini malu-maluin banget karena surat cintaku dibaca didepan semua orang. Kmvrt. Padahal isinya gombal banget. Untung aku nggak lagi di TKP waktu surat cintaku dibacain. Mau ditaruh dimana mukaku. Dengkul? Ditaruh di kepala aja jelek apalagi di dengkul.
Dulu sebelum kuliah pas aku ngambil ijazah ke sekolah terus lagi nongkrong di kantin, pak guru bahasa inggrisku yang masih jomblo dan punya temen sekamar kos yang ternyata cowok yang juga sama sama masih jomblo yang merupakan guru LAN (Local Area Network) yang pelit banget kalo ngasih nile (informasi macam apa ini) (perlu banget ditulis?) udah ngewanti-wanti biar nanti aku jadi mahasiswi yang aktif di kampus.
"Pokoknya besok kamu jangan jadi mahasiswi kupu-kupu! Pak guru aja dulu aktif di 7 UKM. Pak guru masih inget dulu ikut BEM terus BEMnya pak guru dibekukan gara-gara ada kerusuhan 98." Harusnya aku bilang 'Wiiih' karena pak guru ikut 7 UKM sekaligus, tapi aku palah salah fokus dan cuma bisa berteriak dalam hati. APAH? DEMI APA PAK GURU TAUN 98 UDAH JADI MAHASISWA TAPI SAMPE SEKARANG MASIH JOMBLO JUGA? Taun segitu mah aku baru belajar lari pak. Pak guru bukan jomblo sembarangan lagi mah ini, dia jomblo angkatan sesepuh. Aku harus bersyukur karena masih ada yang jauh lebih jomblo dari aku. Terimakasih pak, terimakasih karena telah hidup ke dunia ini dan masih eksis njomblo sampe sekarang #apasih.
Nah loh kalo udah semester 3 kalo lagi bahas sesuatu endingnya kenapa nyasar ke jomblo mulu sih? Heran.
Sabtu, 26 September 2015
Wanita Yang Pernah Mencintaimu
Diposting oleh lovaliva di 16.25Ini masih seperti musim semi yang kemarin. Meski banyak detak waktu telah berlalu, semuanya masih terasa seperti kemarin. Taman ini. Bangku panjang ini. Pohon-pohon ini. Bangunan-bangunan disekitar sini, belum ada yang berubah. Bahkan perasaanku pada laki-laki yang pertama kali ku temui disini pun masih sama. Perasaan ini masih sama seperti saat pertama kali ia memberanikan diri menggandeng tanganku. Degup jantung ini juga tidak jauh berbeda dari sejak pertama kali aku jatuh cinta pada teduh tatap matanya. Tetapi, sekarang, saat ini, kondisinya telah jauh berbeda. Laki-laki itu sudah bukan milikku lagi. Bahkan, dalam waktu yang sedemikian singkatnya, dia sudah bisa menemukan wanita lain untuk menggantikanku.
Penghianatan (Lagi)
Diposting oleh lovaliva di 16.19Waktu aku kecil, bapaku sering ngajak aku ke suatu rumah seorang perempuan setengah baya di daerah kembaran. Meski aku sering main ke rumahnya, aku nggak tau sebenarnya dia itu siapa. Bibiku bukan, tetanggaku bukan, nenekku? Juga bukan (Jangan-jangan dia ibu peri). Bahkan saudara bapakku pun bukan.
Waktu aku udah agak gedean, aku baru tau kalo hubungan bapakku dengan dia adalah guru-murid. Bapakku ngajarin dia ngaji. Meski usianya udah setengah baya-an, dia baru mulai belajar ngaji. Seingatku, selama aku main disana aku nggak pernah tau sesi ngaji mereka. Mungkin karena aku sibuk sendiri dirumahnya.
Rumahnya sederhana, tapi teduh dan damai karena tumbuh-tumbuhan yang mengelilinginya.
Di depan rumahnya ada ada banyak bunga, yang sering aku petikin buat dibawa pulang (susahnya punya tangan jahil) (dasar tukang ngerusak).
Di setiap gawang pintu di rumahnya, ada tirai yang tersusun horizontal dari kerang-kerang kecil. Nggak lupa, aku juga minta beberapa kerangnya buat dibawa pulang hehehe. (Rampok aja semua yang ada dirumahnya fa -_- )
Selain karena dia sering ngupasin aku mangga yang manis, berlimpahnya bahan bacaan disana adalah sesuatu yang bikin aku mau buat diajak main ke sana. Di sudut kursi di ruang tamu, ada tumpukan koran yang menggunung. Saking banyaknya. Ini juga yang pada akhirnya bikin aku jadi orang yang suka baca. Aku selalu sempetin buat mengubrak-abrik koran disana. Dari sekian banyak koran, koran yang paling aku inget adalah koran yang ada gambarnya para pemain misteri ilahi indosiar. Entah kenapa itu jadi yang paling memorable di kepala. Mungkin gara-gara ada naga absurdnya.
Dia kepala sekolah. Jadi nggak heran kalo dia punya koleksi buku, majalah dan koran yang nggak sedikit. Waktu aku kecil, ketika aku menatap dia-entah dia sedang ngobrol dengan bapaku atau yang lainnya- aku tau ada sesuatu yang kuat dalam dirinya yang waktu itu aku nggak tau apa namanya. Belakangan aku tau apa yang dulu aku maksud sebagai sesuatu yang kuat dalam dirinya-feminisme. Feminisme begitu mengakar dalam dirinya. Mungkin itu jadi salah satu faktor yang membuat dia tidak menikah seumur hidupnya.
Rumahnya memang teduh dan damai, tapi ketika aku memasukinnya, tidak tahu kenapa perasaanku berubah. Rasanya hampa. Pengap. Dan kosong.
Mungkin karena rumah itu tidak ditinggali orang lain selain dia, tidak pernah ada anak-anak (selain aku), dan jarang ada pengunjung.
Untuk sebuah rumah yang hanya ditinggali sendiri, kamar di rumah itu terlalu banyak. Kalau tidak salah, ada sekitar empat, atau lebih.
Dia memutuskan untuk tidak pernah mempercayai laki-laki lagi dalam hidupnya setelah pernah dikecewakan.
Dia pernah pacaran dengan seorang laki-laki yang...hidupnya dimodalin sama dia. Bahkan dia membiayai kuliah laki-laki itu dan dia juga yang membayari buku-buku kuliahnya. Tapi apa yang dilakukan laki-laki itu setelah sukses? Laki-laki itu berhianat. Dia selingkuh. Kebenaran apa yang paling menyakitkan dari sebuah penghianatan? Tentang orang yang melakukannya. Penghianatan tidak pernah dilakukan oleh orang asing, tapi orang terdekat kita sendiri.
Dihantui Alphabet
Diposting oleh lovaliva di 16.11Baru kelar satu masalah, muncul lagi masalah yang lain. Seakan datang dan pergi hanya untuk saling tukar posisi sebagai sang penguji.
Ketika aku udah bisa tidur dengan damai karena nggak sering kena paralyze lagi, palah datang ke-enggak jelasan gangguan tidur yang baru.
Belakangan ini, otakku lagi rada konslet. (Kalo ada temen smkku yang denger aku ngomong ini, mungkin dia bakal bilang, "perasaan udah konslet dari dulu.")
Kalo aku lagi kecapekan dan banyak pikiran, aku sering mimpi diserang huruf alphabet. Huruf-huruf alphabet itu beterbangan kaya tawon dan ngerubungin aku. Mereka berputar-putar di sekitarku dan membuatku kebingungan. Aku tidak tahu apakah aku sedang bermimpi atau hanya berilusi.
Yang lebih sering lagi palah aku mimpi lagi ngerjain soal. Oh Lord, please! Aku tidur buat melarikan diri dari soal, bukan buat ngerjain soal.
Aku terus menerus tegang saat tidur gara-gara serius memikirkan jawaban dari soal yang kukerjakan di dalam mimpi itu. Aku udah coba nginget-inget salah satu soalnya, tapi aku nggak berhasil. Yang aku inget dengan pasti, aku belum pernah mempelajari pelajaran itu sebelumnya. Ketika aku menjawab soal, dua sisi kesadaranku seperti terbelah. Sisi tidak sadarku memilih sebuah jawaban sekehendaknya seolah-olah dia telah menguasai topik itu sejak lama, tapi sisi sadarku selalu meragukan kemampuan sisi tidak sadarku. Dia selalu berteriak, "Hei, kata siapa jawabannya itu? Aku bahkan belum pernah mempelajari materi itu sebelumnya, tapi bagaimana kau bisa sebegitu yakin kalau jawabannya itu!?"
Entah karena pura-pura tidak mendengar sisi sadarku, atau sepertinya dia memang tidak menyadari keberadaan sisi sadarku, ketika sisi sadarku mampu melihat kelakuan sisi tidak sadarku.
Sisi sadarku terus berteriak agar sisi tidak sadarku memikirkan dulu jawaban pilihannya tapi ia terus saja dengan santainya memilih jawaban-jawaban di kertas itu seakan-akan telah menguasai itu semua.
Bangun tidur jadi sering lebih dapet capek daripada dapet seger.
Aku juga sering ngimpi lagi baca artikel. Artikelnya itu artikel yang belum pernah aku baca sama sekali di dunia nyata. Dan setipe seperti waktu aku mengerjakan soal, sisi tidak sadarku terus membaca artikel itu, sementara sisi sadarku terus berteriak memintanya berhenti membaca karena dia tidak yakin tentang kebenaran isi artikel itu.
Aku menduga mungkin ini hanya refleksi dari pikiran bawah sadarku. Alam bawah sadarku ingin memberitahu padaku kalau dia adalah seseorang pemuda yang berdiri diatas kakinya sendiri untuk memperjuangkan apa yang dipegangnya, keyakinan. Dan alam sadarku berhasil meyakinkanku kalau ia hanya seorang tua konvensional yang terus mengekang kebebasan dengan aturan-aturan kaku yang terus coba ia pertahankan.
Minggu, 20 September 2015
Nggak Penting
Diposting oleh lovaliva di 08.22Aku sering nggak habis pikir sama tipe ibu-ibu yang suka mendadak curhat sama stranger yang duduk di sebelahnya. Ibu-ibu itu bisa cerita soal hal-hal yang sifatnya pribadi banget yang kalo aku sendiri yang ngalemin nggak akan cerita sama siapapun bahkan ke temen deketku--apalagi orang asing. Apa akunya aja yang terlalu kaya gini jadi orang atau banyak orang yang merasa enggak apa-apa untuk cerita soal privasi mereka ke random people? Nggak tau aku, yang jelas--itu bener-bener not my thing. Aku sih nggak masalah kalo ibu-ibunya curhat apapun ke aku, palah jadi ada temen ngobrol di kereta, tapi kalo kebetulan stranger yang duduk disamping ibu-ibu tipe curhatan adalah bapak-bapak cuek gimana? Yang ada pas ibunya lagi melodramaan sama cerita hidupnya, bapak-bapaknya nyekip, "terus saya harus nangis guling-guling gitu bu abis dengerin cerita ibu?"
Dan untung aja, aku bener-bener real stranger. Gimana kalo ceritanya ibu-ibu tipe curhatan itu adalah seseorang yang sedang dalam pelarian kemudian duduk sebelahan sama aku, curhat soal rahasia-rahasianya ke aku. Padahal sebenarnya, tanpa dia tahu aku diam-diam dikirim untuk memata-matainya?
Temenku pernah bilang, kalo postingan blogku isinya nonsense. Nggak ada yang penting. Yah, emang. Justru kalau hal itu penting, aku nggak akan posting. Karena hal-hal itu nggak penting, makanya aku posting.
Label: Curhat, Ibu-ibu, Kereta, Nggak penting, Perempuan Jelata, Stranger
Rabu, 09 September 2015
Seorang Idealis yang Terinfeksi Realistis
Diposting oleh lovaliva di 02.53Ketika aku mengalami kejatuhan yang sangat dihidupku, segalanya menjadi jelas. Bagiku setelah itu, tak ada yang terlalu penting dikehidupan ini.
Tidak cinta, tidak popularitas, tidak harta, tidak juga isi kepala.
Aku pernah ingin menjadi cantik seperti banyak perempuan lainnya. Tapi itu tidak lama, karena aku tersadar, nantinya wajahku bakal keriput juga.
Aku pernah ingin punya bentuk tubuh yang ideal seperti teman-temanku yang lainnya. Tapi itupun tak berlangsung lama, karena aku tersadar, nantinya aku akan jadi fosil juga.
Aku pernah ingin punya banyak teman. Tapi keinginan itu segera pudar begitu saja, karena aku tersadar, itu tak selalu banyak berguna.
Aku pernah ingin menguasai banyak hal. Tapi kini aku tak lagi menginginkannya, karena aku tersadar, itu hanya membuatku lelah saja.
Aku pernah ingin dicintai seperti para perempuan yang lainnya. Tapi itu hanya diwaktu-waktu tertentu seperti ketika aku sedang merasa gundah dan kesepian saja. Karena aku segera tersadar bahwa cinta sejati susah untuk dapat tumbuh subur di hati manusia yang didominasi kecemburuan, rasa iri, ketamakan, kesombongan, kebosanan dan niat untuk berpaling ke arah yang lainnya.
Tulang Rusuk
Diposting oleh lovaliva di 02.47Apa kamu memang nyata?
Apa kamu benar-benar ada? Apa kamu akan tersedia untukku suatu saat nanti?
Tapi kapan?
Aku mulai ragu kalau untuk menganggapmu ada.
Aku mulai ragu kalau kau akan datang kehadapanku suatu saat nanti.
Jujur, aku lelah.
Lelah menantikanmu yang bahkan tak kutau,
kau orang yang seperti apa? hidup dimana?
hidup seperti apa?
Keraguanku pada kehadiranmu terkadang membuatku berpikir, jangan-jangan aku bukan tulang rusuk.
Ketika kebanyakan perempuan lain adalah seonggok tulang rusuk yang tersesat dari tulang rangkanya, jangan-jangan aku adalah pengecualian.
Jangan-jangan, aku adalah tulang rangka yang berdiri sendiri.
(Bukan) Tokoh Utama
Diposting oleh lovaliva di 02.32Nb: Ini adalah prolog Juniel dari draft tulisan yang aku bikin yang entah kapan bakal aku selesein dan bakal jadi printed book seperti yang sudah aku impikan sejak lama. Jadi penulis. Tapi aku pikir aku belum cukup kompeten buat jadi penulis. Huhuhu
Juniel PoV (Sudut pandang Juniel) :
Meski aku menjalani kehidupan dari sudut pandangku, aku selalu merasa bahwa di hidup keseharianku yang tampak seperti potongan serial drama ini, aku tak pernah merasa berperan menjadi tokoh utama. Meski aku ingin jadi tokoh utama, aku selalu berakhir dengan jatuh di serial drama orang lain dan hanya menjadi cameo disana. Figuran. Tokoh sampingan. Tokoh yang hanya kadang-kadang muncul dicerita dengan porsi yang sedikit dan tak diberi ending yang jelas seperti cerita milik tokoh utama.
Tidak peduli soal urusan romantika, perkuliahan, dan kehidupan sehari-hari, semuanya peran yang kujalani tak lebih dari porsi milik tokoh figuran, meski aku berperan di kehidupanku sendiri.
Meski begitu, kadang-kadang aku masih tergerak untuk mencari bukti. Bukti kalau aku adalah tokoh utama di kehidupanku sendiri.
Kadang-kadang aku bahkan mengetikkan namaku di mesin pencarian. Bukan apa-apa, hanya iseng. Siapa tahu suatu hari nanti namaku bisa muncul di urutan satu halaman pertama pencarian , tercantum dalam topik yang membanggakan. Tapi hari seperti itu sepertinya takkan pernah datang. Hari ini saja, namaku hanya baru bisa kutemui di halaman lima. Itu saja berkat daftar nilai ujian tiap semester yang hanya bisa dilihat di internet. Tidak ada yang membanggakan disana. Aku hanya seorang mahasiswi bahasa yang biasa berada di peringkat kedua. Dari-bawah.
Aku hampir saja menyatakan diri sebagai tokoh utama di topik percintaan hidupku setelah menyadari kalau laki-laki dari jurusan sebelah yang kusukai sejak permulaan semester tak pernah tidak tersenyum ketika melihatku. Perempuan yang pernah berjuang bersamanya di hari-hari ospek. Dia laki-laki yang selalu tertawa dengan candaanku yang meskipun bagi orang lain terdengar garing di telinga. Orang yang tak pernah ragu-ragu untuk melambaikan tangannya padaku jika kami tak sengaja berpapasan di jalan. Dan tak segan mengajakku berbicara basa-basi di sela-sela perkumpulan unit kegiatan mahasiswa.
Tapi semua bukti yang mampu kujadikan acuan untuk menganggap diriku sendiri tokoh utama itu langsung terbantahkan ketika aku tengah dibuat menggigil oleh derai air hujan, lalu tiba-tiba saja melihatnya melintas didepanku sambil memboncengi perempuan di hari hujan. Perempuan itu melambai padaku, sambil memberi tanda dengan tangannya bahwa dia akan menghubungiku setelah ini. Jadi dia, laki-laki yang pernah dikatakan teman dekat perempuanku itu.
Di bawah tempat perlindungan hujan, aku menangis tak tertahankan. Kupikir kali ini, aku bisa jadi tokoh utama. Tapi tidak. Lagi-lagi, aku harus menjadi second lead female yang harus menyaksikan dua tokoh utama bersatu dengan hati yang patah. Ini tak ada bedanya dengan kisah cintaku yang kemarin, dan kemarinnya lagi. Dan aku sendiri tidak tahu, akan terus menjadi perempuan seperti ini sampai kapan.
The Dugeun-Dugeun
Diposting oleh lovaliva di 02.09Karena kebanyakan orang single seumuranku yang merasa hidupnya flat berpikir bahwa ke-flat-an ini terjadi karena ketidakadaannya seseorang disisi yang mampu membuat hidup menjadi terasa menantang, aku juga jadi terbawa arus untuk mempercayai kalau penyebab ke-flat-an hidupku adalah sama seperti orang lain. Tidak adanya seseorang disisi yang mampu membuat dada ini berdegup. Tidak ada seseorang disisi yang mampu membuat perasaan ini meletup-letup.
Tapi jika aku mau mengkaji ulang hal itu lagi dan mencoba melihat dari cara pandang yang berbeda, aku bisa menafsirkan kalo kebosanan hidup yang kurasakan terjadi karena aku terlalu membiarkan hidupku diisi kekosongan.
Aku jadi berpikir, apakah perasaan berdegup saat jatuh cinta ada kemiripan dengan perasaan berdegup saat mau maju lomba? Karena jujur aku belum pernah merasakan degup jatuh cinta, tapi beberapa kali pernah merasakan degup jantung saat maju lomba.
Jika perasaan kosong dan hampa ini terjadi karena kerinduan untuk merasakan degup jatuh cinta lagi, rasanya seperti mengada-ada karena kenyataannya aku belum pernah merasakannya. Jadi mungkin saja aku salah menafsirkan ingin merasakan degup jantung lagi seperti saat aku pernah mengikuti lomba dengan degup jantung saat ingin jatuh cinta.
Sekedar Curhat
Diposting oleh lovaliva di 02.05Aku udah ngehapus link-link menuju blog ini di akun-akun sosmed yang aku punya dan gantiin dengan link tumblr, gara-gara aku sadar kalo isi postingan di blog ini emang apa banget dan nggak penting.
Aku pengen ngucapin makasih banget buat temen-temenku yang pernah sekali dua kali nyempetin mampir di gudang sampahku ini waktu suwung dan nggak ada kerjaan. Meskipun nggak ada satupun dari mereka yang ninggalin jejak berupa komen atau apalah, seenggaknya aku masih bisa tau dari laporan statistik kalo ada yang berkunjung. Dan aku berterimakasih banget ke temen-temenku yang ngasih tau langsung ke aku dengan bilang, "eh aku baca blogmu loooh." Meskipun tanggepannya macem-macem, ada yang bilang postinganku alay lah, gak jelas lah, ada yang bilang suka sama blogku dan ada juga yang mencibir gara-gara isinya cuma curhatan. Well, gak papa, udah pernah nyempetin main-main ke blogku yang banyak sarang laba-labanya di pojokan ruangan juga aku udah seneng kok, apalagi ngasih masukan-masukan. Kalo isi blog ini cuma curhatan, itu emang bener kok. Tujuanku bikin blog ini ya emang buat dijadiin tempat penampungan sampah yang udah terlalu menumpuk dan membusuk di kepala kalo nggak segera di buang di blog ini, bukan buat yang lainnya. Sebenernya aku bisa nulis diatas kertas dan disimpen buat diriku sendiri, bukan di posting di blog pribadi dan terkesan mengumbar aib kaya gini, tapi aku orangnya pelupa banget. Setelah nulis diatas kertas aku pasti lupa udah nulis di buku yang mana gara-gara tulisanku berceceran di buku tulisku yang banyak banget dan berakhir di kumpulan kertas nggak kepakai yang akan selalu bernasib di loakin sama ibu. Jadi aku nulis di sini, biar kapan-kapan(pas udah nenek-nenek mungkin), aku bisa buka-buka lagi, baca-baca lagi segala macam kefrustasian hidup yang pernah aku alami pas masih muda. Dengan nulis di blog, aku juga jadi bisa berka ca dari postingan-postinganku, apakah semakin bergantinya hari, aku masih menanggapi suatu masalah dengan cara yang sama atau aku sudah mampu melakukan pendekatan dari suatu masalah dengan cara yang sama sekali berbeda.
Senin, 27 Juli 2015
Linguistik dan Masa Lalu
Diposting oleh lovaliva di 02.57

Linguistik. Aku agak sebel sama mata kuliah itu. Merumitkan suatu hal yang sebenarnya sederhana. Tapi aku kemudian ngerti kenapa aku sekarang disesatkan di kelas linguistik. Kadang-kadang, tanpa kita sadari, apa yang terjadi di masa sekarang atau yang akan datang adalah imbas dari kehidupan kita di masa lalu.
Dulu waktu aku kecil, setiap kali mudik lebaran, keluargaku pasti berhenti di banyumas buat istirahat.
Aku bener-bener penasaran dulu, kenapa sih namanya banyumas? Jadi, setiap jeda perjalanan mudik, aku sering jalan-jalan di sekitar tempat yang ada genangan airnya, seperti soloran dan kali. Mengamati setiap soloran yang bisa kutemui. Tapi, warna airnya sama aja tuh, bening. Nggak emas. Terus kenapa namanya banyumas? Aku tanya sama ibuku, kenapa namanya banyumas, ibuku cuma bilang emang udah kaya gitu dari sononya. Pas aku tanya sama bapakku, dia jawabnya mungkin ada cerita rakyat yang menceritakan kalo dulu di daerah situ ada sungai yang airnya berwarna emas.
Di mudik lain hari, aku masih kepikiran hal yang sama karena belum menemukan jawaban.
Jadi suatu saat aku nitip temenku yang udah sekolah buat beli kalung imitasi berwarna silver di bapak-bapak yang suka jualan mainan di sd-sd karena aku belum sekolah. Aku beli kalung itu buat melakukan percobaan pada air soloran di banyumas.
Waktu kita berhenti di banyumas, kebetulan kita istirahat di tempat yang deket soloran. Meski soloran, airnya terbilang bening.
Aku turun ke soloran itu, berusaha nyelupin kalungku ke airnya. Setelah mencelupkannya, aku menunggu lama. Tapi tidak ada yang terjadi. Warna kalungnya tetep silver, nggak berubah jadi emas.
"Kamu ngapain disitu? Ntar jatuh!" teriak ibuku yang baru menyadari keberadaanku di dekat soloran.
Aku menjawab dengan begonya, "Aku cuma penasaran aja bu, apa kalo aku nyelupin kalung ini ke air di banyumas, kalung silver ini warnanya bisa berubah jadi emas?"
Aku nggak tau apa yang ibuku lakukan setelah mendengar perkataanku itu. Mungkin dia lari pulang ke rumah sambil nangis, "Ya Tuhan, kenapa kau anugerahi aku anak sebodoh dia? KENAPA??? KENAPA!!!"
Aku suka mengamati sekitar, dan itu membuat kepalaku penuh dengan pertanyaan. Kenapa begitu? Kenapa begini? Kenapa seperti itu? Tapi kemudian, lingkungan mengguruiku bahwa kebanyakan orang risih dengan orang yang banyak bertanya sepertiku. Katanya, banyak tanya itu kampungan. Katanya, banyak tanya itu menunjukkan kebodohan. Sejak saat itu, aku jarang bertanya pada orang. Aku mulai bertanya pada angin yang berhembus dan rumput yang bergoyang #halah
Bukan, bukan, yang bener aku mulai bertanya sama google.
Aku disibukkan dengan kehidupan. Aku bahkan lupa pernah tidak bisa tidur hanya karena memikirkan makna nama banyumas, tapi sebuah tulisan di buku linguistik membawa ingatan itu padaku kembali. Kata pelajaran linguistik, sifat bahasa adalah arbiter, nama banyumas adalah hasil kesepakatan dari beberapa pihak dan tidak ada kaitannya sama sekali dengan materi.
Buruk Sangka Sama Allah
Diposting oleh lovaliva di 01.24
Waktu aku masih jauh lebih bodoh daripada sekarang, aku pernah buruk sangka sama Allah.
Itu adalah ketika aku sudah terombang-ambing sedemikian parah setelah ujian nasional dan palah berakhir di sebuah sekolah yang bisa ku judge sebagai 'the worst school i ever attend' (dengan terlebih dahulu mengumpulkan banyak acuan-acuan sampai aku bisa menyimpulkannya demikian).
Dengan bodohnya, aku pernah marah dan bertanya-tanya, kenapa Dia melakukan ini padaku?
Apa Dia ingin menghukumku karena aku seorang hamba yang pembangkang?
Di madrasah saja, aku seseorang dengan watak tidak terlalu patuh pada sistem sekolah dan sekarang? Ia palah menempatkanku di suatu tempat dimana rata-rata siswanya kurang bermoral (Kebanyakan, tapi nggak semuanya. Alhamdulliah temen-temen sekelasku kebanyakan orang baik-baik. Yang perempuan sih, aku nggak tau kalo yang cowok. Aku nggak bergaul sama mereka.)
Dia menempatkanku disuatu tempat yang sangat mendukung seseorang untuk menjadi orang yang buruk-menurut sudut pandang kebanyakan orang.
Kenapa Dia palah menempatkanku di tempat seperti ini?
Apa Dia sengaja?
Sengaja membiarkanku menjadi orang yang jauh lebih buruk dari yang dulu-dulu? Apa maksudnya melakukan ini? Apa dia sudah malas denganku?
Malas pada hamba yang tidak tahu diuntung sepertiku ini?
Aku mulai mempertanyakan banyak hal, tetang arti, mempertanyakan tentang apapun yang kujumpai dihidupku. Mempertanyakan orang lain, mempertanyakan diriku sendiri. Mempertanyakan segala yang kulihat, segala yang kurasakan, segala yang kulakukan, segala yang kudengar dan segala hal yang sedang terjadi.
Aku terus saja menganalisis segala sesuatunya secara berlebihan. Aku bahkan sengaja sering membolos sekolah hanya untuk berpikir dan merenung di pojok kamar pengapku.
Aku kesulitan dalam menentukan apa yang seharusnya jadi prioritasku dan apa yang sebaiknya kuurus di belakang. Aku dan kehidupanku--sungguh berantakan.
Aku selalu melakukan sesuatu tanpa pernah benar-benar mengerti apa yang sedang kulakukan, apa arti dari yang sedang kulakukan dan apa imbasnya jika aku melakukan hal itu.
Sebenarnya, aku sudah berada di suatu tempat dimana aku bisa belajar apa yang sebenarnya sudah ingin kupelajari sejak lama, komputer. Tapi karena aku merasa frustasi dengan hidupku dan merasa berada di tempat yang tak seharusnya, aku jadi menjalani semuanya dengan setengah hati. Aku berangkat sekolah hanya untuk membubuhkan tanda tangan di kertas absen, tak lebih. Aku masuk sekolah, kadang-kadang, tapi tak ada yang benar-benar masuk ke kepalaku. Ketika pelajaran, aku lebih suka menatap keluar jendela untuk melihat awan dan ketika waktunya mengumpulkan tugas, aku hanya menurun pekerjaan temanku saja. Otak di kepalaku telah lama macet entah sejak kapan, aku sendiri tidak sempat menyadarinya.
Aku hanya baru sadar sekarang jika aku lulus dari sekolah dengan predikat hanya sekedar lulus. Aku tak kompeten di bidang apapun yang pernah kupelajari disekolah.
Ya, aku hanya buang-buang uang orangtuaku disana dengan tidak mendapat apapun disana selain sebuah ijazah dengan nilai yang tak bisa dibilang membanggakan. Tapi aku mendapat banyak hal berupa pelajaran kehidupan yang bagiku jauh lebih berguna untuk kehidupanku daripada nilai-nilai akademis yang tertulis diatas selembar kertas yang kata orang bisa ditukarkan dengan kemapanan di masa depan jika aku mencetak angka-angka yang bagus disana. Aku mendapat pelajaran-pelajaran kehidupan yang membuat persepsiku tentang kehidupan berubah beratus-ratus derajat. Tidak seperti bayanganku di awal masuk sekolah, semua keburukan yang kujumpai di lingkungan sekolahku dulu palah mengajarkanku untuk menjadi orang yang lebih bijak dalam menyikapi hidup.
Aku mendapatkan pengalaman hidup yang kupikir--mungkin takkan kudapatkan jika aku berada di sekolah yang 'bener' versi kebanyakan orang.
Mengantri wudhu dan mengantri memakai mukena sekolah di jam-jam shalat duha dan dzuhur adalah pemandangan yang biasa di madrasah tsanawiyah. Tapi ketika aku smk, aku benar-benar kakaget dengan mushola sekolah yang selalu kosong. Ada juga masjid di dekat sekolah. Ada beberapa anak laki-laki yang pergi ke sana, bukan untuk shalat jumat berjamaah, tapi untuk merokok berjamaah.
Ada 240an anak lebih di angakatanku waktu itu. Belum anak-anak kelas 2? Kelas 3? Tapi tidak ada orang yang bisa aku dan temanku temui di sana selain pak guru elektronika yang terkenal alim itu. Ke mana orang-orang? Kenapa mereka seperti ini?
Karena di madrasah shalat adalah hal yang dilakukan semua orang, aku jadi tak bisa mengambil banyak pelajaran dari itu. Tapi ketika di smkku, shalat adalah sesuatu yang hanya dilakukan oleh segelintir orang disekolahku, aku jadi mendapat pelajaran, aku termasuk orang yang cukup beruntung karena Allah masih memberiku hidayah untuk menganggap shalat itu penting.
Aku jadi sedih, bahkan aku adalah orang yang seburuk ini, tapi Dia masih saja selalu peduli padaku. Peduli pada siswa-siswi disekolahku. Tidak peduli orang seberapa buruk apapun aku ini, Dia selalu disana, mengabulkan semua hal yang kuminta, menghindarkan segala hal buruk yang sekiranya bisa menimpaku, menjagaku dari pengaruh buruk lingkunganku dan mendengar semua keluhan yang kusampaikan padanya tanpa kutahu.
Dengan pengalaman langsung, aku jadi memahami tentang pepatah yang mengatakan, tidak semua hal buruk membawa kita pada kesedihan dan tidak semua hal baik membawa kita pada kebahagiaan. Satu hal yang begitu kusyukuri dari semua hal buruk yang telah kulalui, aku jadi menyadari jika ternyata, Dia adalah Tuhan terbaik yang pernah kupunya.
Sabtu, 27 Juni 2015
The Absurd Sister [2]
Diposting oleh lovaliva di 08.08Semester ini aku cukup stress. Sebelum kuliah aku nggak pernah jerawatan di pipi. Tapi kali ini, jerawatku banyak banget. Kalo aku lagi stress, aku perlu pulang ke rumah buat ngilangin stress. Tapi pas pulang ke rumah, terus baca-baca kertas uas adekku, aku palah tambah setress.
Nomer selanjutnya. Gotong royong dapat mempererat tali...? Adekku jawabnya tiang. Temennya adekku jawabnya tali gantung. Temennya yang lain jawabnya tali temali. Ya amfuuun anak-anak ini -____-
16. Selain kerjasama di lingkungan sekolah, kerjasama juga dapat dilakukan di lingkungan...? Adekku jawabnya UKS. Kerjasama sama siapa di UKS? Sama betadine? -____- Jomblo terakreditasi A -___-
1. Birrul walidain adalah...? Adekku jawabnya Malam Yang Indah -___- Aku nggak nyangka adekku sepuitis itu :| Birrul walidain itu berbakti kepada kedua orang tua wey -____-
5. Rido Allah tergantung pada rido...? Adekku jawabnya palah rido malaikat -___- Kenapa gak rido roma aja sekalian? -___-
15. Bicaralah dengan orang tua dengan bahasa yang lemah...? Adekku jawabnya lemah gemulai. -___- Berasa tiba-tiba berubah jadi maho setelah baca tuh soal *jedoti2n kepala ke tembok*
Kiamat versi adekku. Matahari terbit di sebelah selatan.
20. Lingkungan sekitar harus di...? Rusak -___- ckckck anak muda jaman sekarang *elus jenggot*
5. Melihat teman berkelahi kita harus...? Adekku jawabnya membiarkan. Adekku mah orangnya gitu --"
8. Iqamah adalah tanda bahwa shalat akan segera...? Adekku jawabnya Dimadu :(
Shalat aja dimadu, apalagi kamu :'(
Jawaban macam apa itu -___-
Anak kecil aja udah berpendapat kaya gitu :|
Masa fakir miskin disuruh makan surat kabar -___-
Dasar adekku -___-






